Selasa, 01 Maret 2011

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan Kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yanq bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua ibu bapakmu, hanya kepadaKu lah kembalimu” (Q.S. Luqman: 14)

Diriwayatkan Abu Abdurrahman Abdullah ibnu Mas’ud RA:

Aku bertanya kepada Nabi SAW, “Apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT?”

Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.”

Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?”

Beliau menjawab, “Birrul walidain.”

Kemudian aku bertanya lagi, “Seterusnya apa?”

Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.”

Birrul walidain terdiri dari kata al birrul artinya kebajikan dan al walidain artinya dua orang tua atau ayah bunda. Maka, birrul walidain maknanya berbuat kebajikan kepada kedua orangtua atau berbuat ihsan sesuai dengan perintah Allah SWT dalam surah Al Ahqaf ayat 15, “Kami wajibkan kepada umat manusia supaya berbuat kebaikan (ihsan) kepada dua orang ayah bundanya”.

Sahabat Abu Umamah RA mengisahkan, seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai peranan kedua orang tua dan dijawab, “Mereka (kedua orang tua) adalah yang menyebabkan surgamu atau nerakamu.” (HR. Ibnu Majah).

Ketika Muawiyah ibnu Jahimah mendatangi Rasulullah SAW untuk memohon, agar ia dapat ikut berjihad bersama beliau ke medan juang. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah ibunya masih hidup?”

Muawiyah rnenjawab bahwa ibunya masih hidup. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Kembalilah ke rumah dan layani ibumu, karena sorga berada di bawah telapak kakinya” (HR. lbnu Majah dan Nasa’i)

Di antara perintah Allah mengenai birrul walidain terdapat dalam surah Al Isra’ ayat 23 –24. Bila diperhatikan firman Allah dalam ayat ini dapat diambil beberapa hal pokok. Pertama, hak dan kedudukan orang tua (ayah bunda) di dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia, langsung berada di bawah hak-hak Allah SWT. Al Qur’an berulang kali memerintahkan berperilaku menyenangkan, patuh, dan berbakti kepada ayah bunda.

Selanjutnya, apabila kedua ayah bunda sudah berusia lanjut, sikap dan perasaan mereka cepat berubah, seperti menjadi mudah tersinggung, suka marah dan cepat bersedih hati, karena ketuaan usia mereka. Maka kepada anak-anak mereka diperintahkan, agar melihat perubahan perilaku ayah bunda itu sebagai suatu yang lumrah dan mesti diterima dengan selalu menampakkan rasa kasih sayang yang tulus.

Birrul walidain menempati kedudukan istemewa dalam ajaran Islam. Perintah ihsan kepada ayah bunda ditempatkan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an sesudah perintah beribadah kepada Allah dan sesudah larangan menyekutukan-Nya. “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan esuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak wabil waalidaini ihsanan… (Q.S. An Nisa’: 36)

Allah telah menetapkan perintah berterima kasih kepada ayah bunda sesudah perintah bersyukur kepada Allah SWT. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. (Q.S. Luqman:14)

Kemudian, Baginda Rasulullah SAW mengaitkan keridhaan Allah SWT bertalian dengan keridhaan ayah bunda, sesuai sabda beliau, “Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orangtua, dan kemarahan Rabb (Allah) ada pada kemarahan orang tua” (HR. At Tirmidzi). Demikian pula, Rasulullah SAW meletakkan ‘uququl walidain (durhaka kepada dua orang ibu bapak) sebagai dosa besar sesudah al isyraaku billah (syirik).

Maka di dalam mengamalkan ibadah-ibadah di dalam bulan Ramadhan khususnya, dan juga pada setiap saat, janganlah dilalaikan untuk berdoa bagi keselamatan dan kesejahteraan kedua ayah bunda, agar Allah SWT menurunkan rahmatnya untuk kita semua.

Khusus untuk akhwah Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah memiliki ciri tersendiri untuk menunjukkan sikap berbakti kepada orangtua. Pada fase maghfiroh di bulan Ramadhan ini, mereka dituntut melaknakan SHALAT BIRRUL WALIDAIN sebanyak dua rakaat ba’da shalat maghrib. Rakaat pertama membaca surat Al Fatihah dan Al Qadr. Sedangkan rakaat kedua membaca surat Al Fatihah dan Al Ikhlas.[]

Keterangan didalam kitab "KHOZINATUL ASROR" HALAMAN 40 disebutkan sbb :
ASH SHOLAWAATIL NWAAFILI 'INDAL ASBAABI 'AARIDLOH

BUKU TERSEBUT KARANGAN SAYYID MUHAMMAD HAQQIN NAAZILI DITERANGKAN CARA SHOLAT BIRRUL WALIDAINI :

- pada tiap-tiap malam kamis
- Waktunya antara Magrib sampai isya
- Dua rokaat setelah membaca surat fatihah membaca :
1, ayat kursi lima kali
2. surat al- falaq, qul 'auudzu birobbil falaq
3. Surat al - nass, qul auudu birobbn nassi
- Setelah salam membaca istigfar lima belas kali
- Kemudian membaca Sholawat nabi lima belas kali
- Kemudian pahala dipersembahkan untuk ibu-bapak yg telah meninggkan dunia.,

Qolaa Rosulullah saw :

MAN SHOLALAHAA FAQOD ADAA HUQUQQ WAALIDAINI ALAIHI WA ATAMMA BIRROHUMAA
( AN ABI HURAIROH- KHOZINATUL ASROR HALAMAN 40 )

BERSABDA rOSULULLAH SAW :
"Barang siapa yang mengerjakan sholat birrul waalidaini maka ia telah sunguh-sunguh telah menunaikan hak terhadap orang tua nya yang telah diwajibkan atasnya dan telah menyempurnakan birrul waalidaini.
itulah DASAR HUKUM MELAKSANAKAN SHOLAT BIRRUL WAALIDAINI

Hadits tersebut ada yang mengatakan dhoif, akan tetapi apa kata para ulama' Ahli Sunnah wal Jamaah?

Kalau ada hadis tentang satu amalan, meskipun hadisnya taraf dhaif, bisa saja di lakoni untuk diambil fadhilahnya amal.

Shalat birrul walidain itu tidak wajib, jadi siapa mau melaksanakan silahkan, siapa nggak mau ya udah... jgn di bikin ribut.

Para ulama' sendiri berbeda pendapat tentang status bermacam-macam hadis.. dan mungkin hadis tentang satu topik itu jalur riwayatnya macam-macam.

Dan sighat (lafal) nya pun beda-beda, sehingga satu hadis yang dhaif mungkin bisa di kuatkan dan hadis dari jalur lagi satu tentang bab yang sama, meski lafalnya beda.

Jadi, janganlah mempersempit jalan yang luas dan lebar. Kalau di dalam kitab para imam Ahli Sunnah wal Jamaah ada termaktub, dan kita udah yakini imam tersebut (spt Imam Ghazali, al-Imam Abdullah al-Haddad, dll) maka nggak usah lah kita memperdengarkan bisikan was-was.
Posted by Uswah On 10:11 PM No comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Ajukan Pertanyaan atau Tanggapan Anda, Insya Allah Segera Kami Balas

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Arsip Blog