Selasa, 26 Maret 2013

Banyak wanita yang mengalami keputihan dalam jangka waktu yang panjang,sehingga para wanita pada umumnya merasa khawatir dengan "keputihan "tersebut.

Perlu kita ketahui,bahwa Keputihan Tidak termasuk haid. Cairan putih sebab keputihan hukumnya najis, karena keluar dari dalam ms V . Untuk masalah shalat bagi wanita yang menderita keputihan, apabila cairan itu keluar terus menerus seperti orang beser, maka berlaku hukum seperti orang yang beser.  Cara yang harus dilakukan adalah dengan mensucikan kemaluan/ms.V setelah itu disumbat dengan pembalut atau kapas. Barulah kemudian berwudlu dengan menyegerakan shalat. Penderita keputihan dan orang yang beser tidak boleh menunda-nunda shalat setelah berwudlu, kecuali untuk kemaslahatan shalat seperti menjawab adzan atau menunggu jamaah. 

Referensi:

Hasyiyah Jamal II hal. 149

( قَوْلُهُ وَرُطُوبَةٍ فَرْجٍ ) هِيَ مَاءٌ أَبْيَضُ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ الْمَذْيِ وَالْعَرَقِ وَمَحِلُّ ذَلِكَ إذَا خَرَجَتْ مِنْ مَحَلٍّ يَجِبُ غَسْلُهُ ، فَإِنْ خَرَجَتْ مِنْ مَحِلٍّ لَا يَجِبُ غَسْلُهُ فَهِيَ نَجِسَةٌ ؛ لِأَنَّهَا رُطُوبَةٌ جَوْفِيَّةٌ وَهِيَ إذَا خَرَجَتْ إلَى الظَّاهِرِ يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهَا وَإِذَا لَاقَاهَا شَيْءٌ مِنْ الطَّاهِرِ تَنَجَّسَ
 
(pernyataan cairan dalam kemaluan) yaitu cairan putih yang ambigu antara madzi dan keringat.
Titik tekan masalah ini, yaitu ketika cairan itu keluar dari tempatnya yang wajib membersihkannya.
Apabila cairan itu keluar dari tempat yang tidak wajib dibersihkan maka dihukumi najis, karena hal itu merupakan cairan dari dalam. Apabila cairan itu keluar dari anggota dzahir, maka dihukumi najis. Apabila sesuatu yang suci bersentuhan dengannya maka menjadi mutanajis.

Minhaj al Tullab I hal 26

والاستحاضة كسلس فلا تمنع ما يمنعه الحيض فيجب أن تغسل مستحاضة فرجها فتحشوه فتعصبه بشرطهما فتطهر لكل فرض وقته وتبادر به ولا يضر تأخيرها لمصلحة كستر وانتظار جماعة

Istihadzah (darah penyakit) itu seperti orang yang beser, maka orang yang istihadzah tidak tercegah melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh orang yang haid. Maka wajib bagi seorang yang istihadzah untuk mensucikan farjinya, menyumpal dan membalutnya sesuai dengan syarat-syaratnya, kemudian berwudlu. Hal ini wajib dilakukan setiap akan menjalankan shalat fardlu dan bersegera menjalankannya. Mengakhirkan shalat (setelah wudlu) diperboleh bila untuk kemaslahatan seperti menutup aurat atau menunggu jamaah.

Wallahu a'lam..
Posted by Uswah On 3:51 AM 14 comments READ FULL POST
1. Menurut fatwa syeh Al Qomath, seperti dinukil dalam kitab “ Talkhisul Murod Fi Fatawi Ibnu Ziyad “ diperbolehkan bagi wanita untuk menggunakan obat pencegah haid.

2. Syekh Husain Ibrohim Al Maghrobi, seorang mufti madzhab maliki di Mekah dalam fatwa beliau yang termuat dalam kitab “ Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Ulama’ Al Haromain “ menegaskan bahwa penggunaan obat untuk mencegah datangnya haid atau meminimalisir haid selama tidak menyebabkan terputusnya keturunan ( tidak bisa hamil ). Kalau obat tersebut sampai menyebabkan terputusnya keturunan maka haram dikonsumsi.

3.  Darul Ifta’ Al Mishriyah ( MUI-nya Mesir ) Dalam fatwa nomor 1225, tanggal 05/09/2007  yang dikeluarkan tentang “ Hukum mengkonsumsi pil anti haid selama bulan romadhon “ menjelaskan sebagai berikut :

“ Adapun mengkonsumsi pil anti haid guna menunda siklus haid hingga setelah Ramadhan agar seorang wanita dapat berpuasa selama bulan Ramadhan tanpa terputus, maka hal itu diperbolehkan dalam syari’at dan puasanya sah.Seorang wanita boleh melakukan hal ini dengan syarat mendapatkan izin dari dokter yang menyatakan bahwa penggunaan pil anti haid tersebut tidak membahayakan kesehatannya, baik cepat atau lambat.Jika dokter menyatakan bahwa mengkonsumsi pil anti haid tersebut dapat membahayakan kesehatannya, maka hal itu diharamkan . Dalam kaidah syari’at ditegaskan, “ La Dhororo Wa La Dhiroro “ ( Tidak boleh merugikan diri sendiri dan tidak boleh merugikan orang lain ). Selain itu,  menjaga kesehatan tubuh adalah salah satu dari tujuan utama syari’at Islam. Meskipun demikian, penyerahan diri dan ketundukan seorang muslimah kepada kehendak dan takdir Alloh yang memberikankondisi haid padanya dan mewajibkannya tidak berpuasa ketika itu adalah lebih baik dan lebih berpahala “.

4. . Dalam kitab “ Al Fiqhu Alal Madzahib Al ‘Arba’ah “ juga dijelaskan bahwa penggunaan pil anti haid tersebut diharomkan jika memang membahayakan. Namun jika seorang wanita menggunakan pil tersebut lalu haidnya berhenti, maka masa terhentinya haid karena obat tersebut dianggap “ masa suci “.

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Penggunaan obat anti haid bagi perempuan yang bertujuan menunda siklus haid, agar wanita tersebut dapat puasa sebulan lebih hukumnya haram jika memang obat tersebut membahayakan bagi dirinya atau menyebabkan tidak bisa hamil lagi.

 2. Sedangkan apabila tidak terdapat bahaya dalam penggunaannya hukumya khilaf :

  • Menurut Syekh Husain Ibrohim Al Maghrobi, hukumnya makruh ( Madzhab Maliki )
  • Menurut Syekh Al Qomath, hukumya boleh ( Madzhab Syafi'i )
  • Menurt fatwa Darul Ifta' Al Mishriyah, hukumnya boleh, namun lebih baik tidak dikonsumsi.

3. Hari- hari dimana wanita tersebut tidak mengeluarkan darah haid, disebabkan pil anti haid dihukumi masa suci.

Referensi :
1. Talkhishul Murod Fi Fatawi Ibn Ziyad, Hal : 247
2. Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Ulama’ Al Haromain, Hal : 30
3. Fatwa Darul Ifta’ Al Mishriyah, Nomor. 1225
4. Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba’ah, Juz : 1  Hal : 115

Ibarot :

Talkhishul Murod Fi Fatawi Ibn Ziyad, Hal : 247

وَفى فَتَاوى القماط ماحاصله جوازُ استعمال الدواء لمنع الحيض اهـ

Qurrotul ‘Ain Bi Fatawi Ulama’il Haromain, Hal : 30

إذا استعملت المرأة دواء لرفع دم الحيض أو تقليله فإنه يكره ما لم يلزم عليه قطع النسل أو قلته وإلا حرم. كما في حاشية الخرشي

Fatwa Darul Ifta’ Al Mishriyah, Nomor. 1225

حكم تناول المرأة عقاقير تمنع الدورة الشهرية ليتسنى لها الصيام

ورد من السيدة ف. ر . هل يجوز للمرأة تناول العقاقير لمنع نزول الدورة الشهرية ليتسنى لها الصيام في رمضان ؟
الجواب : أمانة الفتوى - الى أن قال -
أما استعمال العقاقير التى تؤخر الحيض إلى ما بعد رمضان والتى تتيح للنساء إتمام الشهر كله بغير انقطاع فلا مانع منه شرعاً، ويصح منها الصوم، ويجوز لها اللجوء إلى هذه الوسيلة بشرط أن يقرر الأطباء أن استعمال هذه الحبوب لا يترتب عليه ما يضر بصحة المرأة عاجلاً أو آجلاً، فإن ترتب على استعمالها ضرر فهى حرام شرعا, لأن من المقرر شرعا أنه لا ضرر ولا ضرار, وحفظ الصحة مقصد ضروري من مقاصد الشريعة الإسلامية, ومع أن استخدام هذه الوسيلة جائز شرعا إلا أن وقوف المرأة المسلمة مع مراد الله تعالى وخضوعها لما قدره الله عليها من الحيض ووجوب الإفطار أثناءه أثوب لها وأعظم أجرا

Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba’ah, Juz : 1  Hal : 115

أما أن تصوم الحيض بسبب دواء في غير موعده، فإن الظاهر عندهم أنه لا يسمى حيضاً، ولا تنقضي به عدتها وهذا بخلاف ما إذا استعملت دواء ينقطع به الحيض في غير وقته المعتاد، فإنه يعتبر طهراً، ويتنقضي به العدة، على أنه لا يجوز للمرأة أن تمنع حيضها، أو تستعجل إنزاله إذا كان ذلك يضر صحتها، لأن المحافظة على الصحة واجبة
Posted by Uswah On 3:48 AM No comments READ FULL POST
Pertanyaan:
 
Jika wanita hamil keguguran dibawah usia 3 bulan apakah wanita itu terkena hukum' nifas ?
Karena kan bs juga dibilang terlambat haid. Syukron..

Jawaban :
Wa'alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh

Jawaban dari pertanyaan diatas diperinci sebagai berikut :

1. Jika bayi yang lahir tersebut sudah menampakkan sebagian penciptaan, seperti adanya jari atau yang lain, maka ulama' sepakat bahwa darah yang keluar setelah lahirnya bayi tersebut dihukumi darah nifas.

2. Jika belum nampak penciptaan, terdapat perselisihan pendapat dikalangan ulama' :
  • Pendapat pertama : Menurut madzhab Syafi'i, madzhab Maliki dan pendapat yang shohih dari madzhab Hanbali  meskipun yang keluar hanyalah segumpal daging atau segumpal darah, jika memang itu adalah permulaan dari penciptaan bayi, maka darah yang keluar sesudahnya dihukumi darah nifas.
  • Pendapat kedua : Menurut madzhab Hanafi dan sebagian riwayat dari madzhab Hanbali darah tersebut tidak dihukumi darah nifas.
Wa'llohu a'lam.

Referensi :
1. Al  Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 41  Hal : 14
2. Syarah Fathul Qodir Alal Hidayah, Juz : 1  Hal : 165
3. As Syarhul Kabir, Juz : 2  Hal : 474
4. Roudlotut Tholibin, Juz : 1  Hal : 174
5. Hasyiyata Qulyubi Wa Umairoh, Juz : 1 Hal : 124
6. Al Mughni, Juz : 1  Hal : 249


Ibarot :
Al  Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 41  Hal : 14
حكم السقط في النفاس
ذهب الفقهاء: إلى أن السقط الذي استبان بعض خلقه كأصبع وغيره ولد - تصير به المرأة نفساء؛ لأنه بدء خلق آدمي، وتصير الأمة أم ولد به إن ادعاه المولى، وكذلك تنقضي العدة وأما إذا لم يستبن شيء من خلقه فقد اختلف الفقهاء فيه على قولين:

القول الأول: للشافعية، إن المرأة إذا ألقت مضغة أو علقة خفيت على غير القوابل، وقال القوابل: إنه مبتدأ خلق آدمي - فالدم الموجود بعده نفاس.
وقال المالكية: لو ألقت دما اجتمع لا يذوب بصب الماء الحار عليه، تنقضي به العدة وما بعده نفاس

القول الثاني: وهو قول الحنفية، فقالوا: إنه إن لم يستبن من خلقه شيء فلا نفاس لها
وقال الحنابلة: يثبت حكم النفاس بوضع ما يتبين فيه خلق الإنسان على الصحيح من المذهب، ونص عليه أحمد، فلو وضعت علقة، أو مضغة لا تخطيط فيها - لم يثبت بذلك حكم النفاس، نص عليه وقدمه في الفروع، والمجد في شرحه وصححه، وابن تميم والفائق. وعنه يثبت - أي حكم النفاس - بمضغة، وعنه: وعلقة. وقيل: يثبت لها حكم النفساء إذا وضعته لأربعة أشهر
Syarah Fathul Qodir Alal Hidayah, Juz : 1  Hal : 165

 وَالسَّقْطُ الَّذِي اسْتَبَانَ بَعْضُ خَلْقِهِ وَلَدٌ ) حَتَّى تَصِيرَ الْمَرْأَةُ بِهِ نُفَسَاءَ وَتَصِيرُ الأَمَةُ أُمَّ وَلَدٍ بِهِ وَكَذَا الْعِدَّةُ تَنْقَضِي بِهِ
-----------
قَوْلُهُ وَالسَّقْطُ الَّذِي اسْتَبَانَ بَعْضَ خَلْقِهِ ) كَأُصْبُعٍ أَوْ ظُفْرٍ ( وَلَدٌ ) فَلَوْ لَمْ يَسْتَبِنْ مِنْهُ شَيْءٌ لَمْ يَكُنْ وَلَدًا فَإِنْ أَمْكَنَ جَعْلُهُ حَيْضًا بِأَنْ امْتَدَّ جَعْلُ إيَّاهُ وَإِلا فَاسْتِحَاضَة

As Syarhul Kabir, Juz : 2  Hal : 474
وَعِدَّةُ الْحَامِلِ ) حُرَّةً أَوْ أَمَةً ( فِي وَفَاةٍ أَوْ طَلاقٍ وَضْعُ حَمْلِهَا كُلِّهِ ) بَعْدَ الطَّلاقِ أَوْ الْوَفَاةِ وَلَوْ بِلَحْظَةٍ لا بَعْضِهِ وَاحِدًا كَانَ أَوْ مُتَعَدِّدًا , وَلِلزَّوْجِ رَجْعَتُهَا قَبْلَ خُرُوجِ بَاقِيهِ أَوْ الآخَرِ , وَهَذَا إذَا كَانَ الْوَلَدُ يَلْحَقُ بِصَاحِبِ الْعِدَّةِ فَلَوْ كَانَ مِنْ زِنًا فَلا بُدَّ مِنْ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ وَعَشْرٍ فِي الْوَفَاةِ وَالأَقْرَاءِ فِي الطَّلاقِ إنْ وُضِعَتْ قَبْلَ مُضِيِّهَا , وَإِلا انْتَظَرَتْ الْوَضْعَ فَالْمَدَارُ عَلَى أَقْصَى الأَجَلَيْنِ وَتَحْتَسِبُ بِالأَشْهُرِ مِنْ يَوْمِ الْوَفَاةِ وَبِالأَقْرَاءِ مِنْ يَوْمِ الْوَضْعِ وَتَعُدُّ النِّفَاسَ قَرْءًا أَوَّلا فَلا تَحْتَسِبُ بِمَا حَاضَتْهُ قَبْلَ النِّفَاسِ زَمَنَ الْحَمْلِ ( وَإِنْ ) كَانَ الْحَمْلُ ( دَمًا اجْتَمَعَ ) وَعَلامَةُ كَوْنِهِ حَمْلا أَنَّهُ إذَا صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ الْحَارُّ لَمْ يَذُبْ

Roudlotut Tholibin, Juz : 1  Hal : 174
الْبَابُ الْخَامِسُ فِي النِّفَاسِ . أَكْثَرُهُ سِتُّونَ يَوْمًا عَلَى الْمَشْهُورِ . وَحَكَى أَبُو عِيسَى التِّرْمِذِيُّ ، عَنِ الشَّافِعِيِّ : أَنَّهُ أَرْبَعُونَ . وَغَالِبُهُ : أَرْبَعُونَ . وَلا حَدَّ لأَقَلِّهِ ، بَلْ يَثْبُتُ حُكْمُ النِّفَاسِ لِمَا وَجَدَتْهُ ، وَإِنْ قَلَّ . وَقَالَ الْمُزَنِيُّ : أَقَلُّهُ : أَرْبَعَةُ أَيَّامٍ . وَسَوَاءٌ فِي حُكْمِ النِّفَاسِ ، كَانَ الْوَلَدُ كَامِلَ الْخِلْقَةِ أَوْ نَاقِصَهَا أَوْ مَيْتًا وَأَلْقَتْ مُضْغَةً أَوْ عَلَقَةً . وَقَالَ الْقَوَابِلُ : إِنَّهُ مُبْتَدَأُ خَلْقِ آدَمِيٍّ ، فَالدَّمُ الْمَوْجُودُ بَعْدَهُ نِفَاسٌ

Hasyiyata Qulyubi Wa Umairoh, Juz : 1 Hal : 124
قَوْلُ الْمَتْنِ: (النِّفَاسُ) هُوَ لُغَةً الْوِلَادَةُ. قَوْلُ الشَّارِحِ: (أَيْ الدَّمُ الَّذِي أَوَّلُهُ يَعْقُبُ الْوِلَادَةِ) مِثْلُهُ لَوْ وَلَدَتْ وَلَدًا جَافًّا ثُمَّ رَأَتْ الدَّمَ قَبْلَ خَمْسَةَ عَشَرَ فَإِنَّهَا نُفَسَاءُ مِنْ حِينِ الْوِلَادَةِ عَلَى الْأَصَحِّ، وَقَوْلُهُ: الْوِلَادَةُ، أَيْ وَلَوْ عَلَقَةً أَوْ مُضْغَةً

Al Mughni, Juz : 1  Hal : 249
فَصْلٌ : إذَا رَأَتْ الْمَرْأَةُ الدَّمَ بَعْدَ وَضْعِ شَيْءٍ يَتَبَيَّنُ فِيهِ خَلْقُ الإِنْسَانِ , فَهُوَ نِفَاسٌ . نَصَّ عَلَيْهِ وَإِنْ رَأَتْهُ بَعْدَ إلْقَاءِ نُطْفَةٍ أَوْ عَلَقَةٍ , فَلَيْسَ بِنِفَاسٍ . وَإِنْ كَانَ الْمُلْقَى بُضْعَةً لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ خَلْقِ الإِنْسَانِ , فَفِيهَا وَجْهَانِ : أَحَدُهُمَا , هُوَ نِفَاسٌ ; لأَنَّهُ بَدْءُ خَلْقِ آدَمِيٍّ , فَكَانَ نِفَاسًا , كَمَا لَوْ تَبَيَّنَ فِيهَا خَلْقُ آدَمِيٍّ . وَالثَّانِي , لَيْسَ بِنِفَاسٍ ; لأَنَّهُ لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيهَا خَلْقُ آدَمِيٍّ , فَأَشْبَهَتْ النُّطْفَةَ
Posted by Uswah On 3:46 AM No comments READ FULL POST
Pertanyaan :
1.Bagaimana hukumnya persalinan dengan cara operasi bedah sesar ?
2. Apakah diwajibkan bagi wanita tersebut untuk melakukan mandi wiladah setelah melakukan operasi ?
 3.Bagaimana status nifas wanita tersebut ?

Jawaban :
Jawaban dari tiga pertanyaan diatas adalah sebagai berikut :
Pertama, Operasi sesar adalah operasi yang bertujuan untuk mengeluarkan janin dari perut ibunya, baik itu dilakukan setelah janin tersebut sempurna penciptaannya atau sebelumnya.
Terdapat dua kondisi diperbolehkannya melakukan operasi sesar :
1. Dhorurot, yaitu keadaan dikhawatirkannya keselamatan ibu, janinnya atau keselamatan keduanya, seperti pada kondisi kehamilan diluar rahim, kematian ibu yang sedang mengandung dan tergoncangnya rahim.
Dalam kondisi seperti ini operasi cesar boleh dilakukan, bahkan wajib jika memang itumerupakan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan bayi atau wanita yang mengandungnya.
2.  Hajat, yaitu keadaan dimana dokter merasa perlu untuk melakukan operasi yang disebabkan sulitnya melahirkan secara normal, dan akan menimbulkan bahaya yang menghawatirkan akan menyebabkan kematian bayi atau ibunya, seperti operasi yang dilakukan karena sempitnya rahim atau rahim sang ibu lemah.
Pada keadaan seperti ini para dokter lah yang memutuskan apakah melakukan operasi atau tidak, bukan atas permintaan wanita yang akan melahirkan atau suaminya yang menginginkan terhindar dari kesakitan saat melahirkan. Dokter yang memutuskan untuk melakukan operasi dengan mempertimbangkan kondisi wanita tersebut, apakah mampu untuk melahirkan secara normal atau tidak, selain itu dipertimbangkan juga tentang efek yang akan ditimbulkan, jika memang bahaya yang akan ditimbulkan diluar kemampuan wanita tersebut  atau akan membahayakan keselamatan janin maka diperbolehkan untuk melakukan operasi jika memang tak ada cara lain yang bisa dilakukan.


Kedua, Para Fuqoha’ dalam hal ini berbeda pendapat. Sebagian menggolongkan persalinan dengan jalan operasi sebagai wiladah, dengan demikian tetap wajib mandi wiladah. Sedangkan sebagian lagi yang lain, menganggapnya bukan wiladah, maka mandi wiladah tidak lagi menjadi sebuah kewajiban.

Ketiga, Darah yang keluar setelah melakukan kelahiran bayi dengan jalan operasi tersebut tidak termasuk darah nifas dan bukan pula darah haidl, maka tidak ada konsekuensi hukum apapun kecuali ia adalah sesuatu yang najis.

NB : Jawaban ini dinukil dari hasil keputusan bahtsul masai'il LBM Sumenep, Madura 
Referensi :
1.Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal : 154-158
2.Qutul Habib Al Ghorib, Hal : 25
3.Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 90
4. Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz : 1  Hal : 205
5. Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz : 1  Hal : 74
6.Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 14  Hal : 16
7. Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, Juz : 1  Hal : 121

Ibarot :
Ahkamul Jirohah Ath Thibbiyyah Wal Atsar Al Mutarottibah Alaiha, Hal : 154-158
المبحث الثالث في جراحة الولادة
وهي الجراحة التي يقصد منها إخراج الجنين من بطن أمه، سواء كان ذلك بعد اكتمال خلقه، أو قبله، ولا تخلو الحاجة الداعية إلى فعلها من حالتين

الحالة الأولى
أن تكون ضرورية، وهي الحالة التي يخشى فيها على حياة الأم، أو جنينها، أو هما معًا، ومن أمثلتها ما يلي:
(1) جراحة الحمل المنتبذ.
(2) جراحة استخراج الجنين الحي بعد وفاة أمه.
(3) الجراحة القيصرية في حال التمزق الرحمي
فهذه الحالات تعتبر فيها جراحة الولادة ضرورية، لأن المقصود منها إنقاذ حياة الأم، أو الجنين، أو هما معاً

ففي المثال الأول: يتكون الجنين خارج الرحم في قناة المبيض، ويسمى بالحمل المهاجر، أو القنوي، وهذا الموضع الذي تكون فيه الجنين يستحيل بقاؤه فيه حيًا، وغالبًا ما ينفجر في القناة التي بداخلها، وحينئذ تصبح حياة الأم مهددة بالخطر، فيرى الأطباء ضرورة إجراء الجراحة، واستخراجه قبل انفجاره، وذلك كله إنقاذًا لحياة الأم

وفي المثال الثاني: تموت الأم بعد اكتمال خلق الجنين، وحياته، فيضطر الأطباء إلى شق بطنها لاستخراج ذلك الجنين قبل موته.
وهذه الصورة ليست بحديثة بل هي صورة كانت موجودة من القدم وهي محل خلاف بين أهل العلم -رحمهم الله- سيأتي بيانه إن شاء الله تعالى في مباحث العمل الجراحي، وأنه لا حرج في فعل هذا النوع من الجراحة إنقاذًا لحياة الجنين

وفي المثال الثالث: يتعرض الرحم إلى التمزق الذي يهدد حياة الأم، وجنينها وذلك بعد اكتمال خلقه، فيضطر الأطباء إلى إجراء الجراحة واستخراج الجنين. حتى لا تتعرض الأم وجنينها للهلاك

فهذه ثلاث صور من صور جراحة الولادة الضرورية، الأولى قصد منها إنقاذ حياة الأم، والثانية قصد منها إنقاذ حياة الأثنين، والثالثة قصد منها إنقاذ حياتهما معًا

وهذا النوع من الجراحة يعتبر مشروعًا وجائزًا، نظرًا لما يشتمل عليه من إنقاذ النفس المحرمة الذي هو من أجلِّ ما يتقرب به إلى الله عز وجل، وهو داخل في عموم قوله سبحانه: {وَمَن أحْيَاهَا فَكَأنَّمَا أحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا} (1)، ولأنه كما جاز استئصال الداء الموجب للهلاك من جسم المريض كذلك يجوز استخراج الجنين إذا كان بقاؤه موجبًا لهلاك أمه، بجامع دفع الضرر في كل.
وكذلك شق بطن المرأة الحامل الميتة من أجل إنقاذ جنينها الحي، فكما يجوز شق البطن للعلاج والتداوي، كذلك يجوز شقها لإنقاذ النفس المحرمة، ولأن بقاءها في البطن بدون ذلك يعتبر ضررًا محضًا، فتشرع إزالته بالجراحة اللازمة للقاعدة الشرعية التي تقول: الضرر يزال

قال الإمام ابن حزم -رحمه الله-: "ولو ماتت امرأة حامل، والولد حي يتحرك قد تجاوز ستة أشهر فإنه يشق عن بطنها طولاً، ويخرج الولد، لقوله تعالى: {وَمَنْ أحْيَاهَا فَكَأنمَا أحْيَا الناسَ جَمِيعًا} ومن تركه عمدًا حتى يموت فهو قاتل نفس" (3) اهـ.
فاعتبر -رحمه الله- فعل هذا النوع من الجراحة فرضًا لازمًا على الطبيب إذا امتنع من فعله عمدًا كان قاتلاً، لامتناعه من فعل السبب الموجب للنجاة مع قدرته على فعله

ولا يشكل على القول بجواز الجراحة في الصورة الأولى ما تتضمنه من إتلاف الجنين وتعريضه للهلاك، وذلك لأن حياة الأم مهددة ببقائه، وبقاؤه في الغالب غير منته بسلامته وخروجه حيًا، ومن ثم كانت حياة الجنين موهومة، وحياة الأم متيقنة فلا يجوز تعريض الحياة المتيقنة للهلاك طلبًا لحياة موهومة، وجاز استخراج الجنين بالجراحة على هذا الوجه ارتكابًا لأخف الضررين للقاعدة الشرعية التي تقول: إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضرراً بارتكاب أخفهما
فالضرر المترتب على بقاء الجنين في هذه الصورة يعرض الأم والجنين للهلاك، بخلاف الضرر المترتب على استخراجه فإنه مختص بالجنين فهو أخفهما.
وينبغي على الأطباء أن يتقوا الله عز وجل، وأن يبذلوا كل ما في وسعهم لعلاج هذه الحالات بالوسائل التي تنتهي بسلامة الأم وجنينها، وألا يقدموا على فعل هذا النوع من الجراحة إلا إذا تعذرت تلك الوسائل، وتحققوا من أن بقاء الجنين مفض إلى هلاكه وأمه، أو غلب على ظنهم ذلك ... والله تعالى أعلم

الحالة الثانية
أن تكون حاجية: وهي الحالة التي يحتاجها الأطباء فيها إلى فعل الجراحة بسبب تعذر الولادة الطبيعية، وترتب الأضرار عليها إلى درجة لا تصل إلى مرتبة الخوف على الجنين أو أمه من الهلاك.
ومن أشهر أمثلتها: الجراحة القيصرية التي يلجأ إليها الأطباء عند خوفهم من حصول الضرر على الأم أو الجنين أو هما معًا، إذا خرج المولود بالطريقة المعتادة, وذلك بسبب وجود العوائق الموجبة لتلك الأضرار، ومن أمثلتها: ضيق عظام الحوض، أو تشوهها أو إصابتها ببعض الآفات المفصلية، بحيث يتعذر تمدد مفاصل الحوض.
أو يكون جدار الرحم ضعيفًا، ونحو ذلك من الأمور الموجبة للعدول عن الولادة الطبيعية دفعًا للضرر المترتب عليها
والحكم بالحاجة في هذا النوع من الجراحة راجع إلى تقدير الأطباء، فهم الذين يحكمون بوجودها، ولا يعد طلب المرأة أو زوجها مبررًا لفعل هذا النوع من الجراحة طلبًا للتخلص من آلام الولادة الطبيعية، بل ينبغي للطبيب أن يتقيد بشرط وجود الحاجة، وأن ينظر في حال المرأة وقدرتها على تحمل مشقة الولادة الطبيعية وكذلك ينظر في الآثار المترتبة على ذلك، فإن اشتملت على أضرار زائدة عن القدر المعتاد في النساء ووصلت إلى مقام يوجب الحوج والمشقة على المرأة، أو غلب على ظنه أنها تتسبب في حصول ضرر للجنين، فإنه حينئذ يجوز له العدول إلى الجراحة وفعلها، بشرط ألا يوجد بديل يمكن بواسطته دفع تلك الأضرار وإزالتها ... والله تعالى أعلم

Qutul Habib Al Ghorib, Hal : 25
ويجب الغسل على من ولدت من غير الطريق المعتاد، لثبوت أمية الولدمنه
Hasyiyah Al Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 90
قوله ونحو ولادة ) ظاهره ولو من غير محلها المعتاد لانه أطلق فيه، وفصل فيما بعده  ع ن، وقيد إبن قاسم بكون الفرج منسدا
Hasyiyah Bujairomi Alal Khotib, Juz : 1  Hal : 205
قال الشوبري فيما كتبه على المنهاج  ولو ولدت من غير طريقه المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا مما قالوه من ثبوت أمية الولدبه  ومما بحثه   م ر  فيما لوقال إن ولدت فأنت طالق فألقته من غير طريقه المعتاد حيث لم يقع، فليحرر، وقد يتجه عدم وجوب الغسل، لأن علته خروج المني، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الأصلي. وقد يفرق بينه وبين ما مر. إنتهى ما قاله  ق ل ( ألشهاب أحمد ألقليوبي )، أ ج  ( عطية الأجهوري ) . وقوله  وقد يفرق بينه أي بين عدم وجوب الغسل وبين ثبوت أمية الولد ووقوع الطلاق. وصورة الفرق أن أمية الولد منوطة بالولادة  وقدحصلت، ولو من غير طريقها المعتاد. ووجوب الغسل بخروج المني من طريقه ولم يوجد. قلت؛ وقد يرد الفرق، ويقال  بوجوب الغسل  بأنه إنما وجب هنا للولادة  لا  لخروج المني، بقيده الذي ذكره ، فالولادة غير خروج المني، والغسل يجب بكل منهما. فإذا كان الخارج منيا تقيد بمحله كما ذكر، والولادة  لا تتقيد, إذ المقصود خروج الولد من أي محل ، فليتأمل، ذكر ذلك  م د ( محمد المدابغي ). وعبارة الاطفيحي : وينبغي أن يأتي فيه ما تقدم من التفصيل في إنسداد الفرج بين الأصلي و العارض، فإن كان الإنسداد أصليا: قيل لها ولادة وكانت مو جبة للغسل ، و إلا فلا، لأن خروج  الولد من جنبها مثلا  مع  إنفتاح  فرجها  لا يسمى ولادة
Hasyiyah Al Baijuri Ala Syarhi Ibnul Qosim, Juz : 1  Hal : 74
ولو ولدت من غير الطريق المعتاد فالذي يظهر وجوب الغسل أخذا  مما بحثه الرملي فيما لو قال؛ إن ولدت فأنت طالق،  فولدت من غير طريقه المعتاد، وقال بعضهم : قد يتجه عدم الوجوب، لأن علته أن الولد مني منعقد، ولاعبرة بخروجه من غير طريقه المعتاد مع إنفتاح الاصلي، ورد، بأن الولادة نفسها صارت موجبة للغسل، فهي غير خروج المني

Al Mausu'ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, Juz : 14  Hal : 16
الولادة بجرح في البطن
لما كان النفاس هو الدم الخارج من الفرج عقب الولادة، فقد نص الحنفية على أنه إذا ولدت من سرتها - مثلا - وسال منها دم لا تكون نفساء، بل هي صاحبة جرح ما لم يسل من فرجها، لكن يتعلق بالولد سائر أحكام الولادة

Al Fiqhu Alal Madzahib Al Arba'ah, Juz : 1  Hal : 121
ولو شق بطن المرأة ، ولو خرج منها الولد، فإنها لاتكون نفساء
Posted by Uswah On 3:44 AM 2 comments READ FULL POST
Terdapat dua pendapat berbeda menanggapi masalah darah yang keluar dari wanita dalam masa kehamilan :

Pendapat pertama,
Menurut qoul jadid (pendapat yang baru) dari imam syafi'i yang disepakati oleh ashhab syafi'i dan dianggap ini adalah pendapat yang shohih dan adhhar, darah yang keluar dari wanita hamil apabila memenuhi syarat-syaratnya, tidak kurang dari sehari semalam, dan tidak lebih dari 15 hari, maka darah itu dihukumi darah haidh, meskipun hal ini jarang terjadi berdasarkan keumuman ayat yang menjelaskan tentang haidh dan hadits nabi ;

إِذَا كَانَ دَمُ الْحَيْضِ فَإِنَّهُ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذَا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنْ الصَّلاةِ

"Jika memang itu adalah darah haidh maka sesungguhnya darah itu berwarna hitam yang bisa dikenali, jika sifatnya seperti itu maka tinggalkanlah sholat". ( Sunan Abu Dawud, no.304 )

Madzhab maliki juga berpendapat sama, bahwa orang yang hamil masih dimungkinkan untuk mengeluarkan darah haidh. Jadi, menurut pendapat ini orang wanita hamil yang mengeluarkan darah yang sudah memenuhi kriteria dikatakan haidh, maka ia dihukumi wanita yang sedang haidh yang tidak wajib mengerjakan sholat.

Pendapat kedua,
Menurut qoul qodim (pendapat yang lama) dari imam syafi'i, darah yang keluar ketika hamil adalah darah fasad (rusak),  atau darah illat (penyakit) yang dihukumi darah istihadhoh sebab pada umumnya bibir rahim dari wanita yang sedang haidh tersumbat saat mengalami kehamilan, dan tidak mengeluarkan darah kecuali saat kelahiran bayi, karena itulah darah yang keluar saat kehamilan dihukumi darah istihadhoh. Dalilnya adalah sabda nabi ;
لَا تُوطَأُ حَامِلٌ حَتَّى تَضَعَ، وَلَا غَيْرُ ذَاتِ حَمْلٍ حَتَّى تَحِيضَ حَيْضَةً

Wanita hamil tidaklah disetubuhi hingga ia melahirkan dan wanita yang tidak hamil istibro’nya (membuktikan kosongnya rahim) sampai satu kali haidh.” ( Sunan Abu Dawud, no.2157 )

Dari hadits ini bisa dilihat bahwa nabi menetapkan kehamilan sebagai tanda bersihnya rahim, jadi dapat disimpulkan wanita yang sedang haidh tidak mengeluarkan darah haidh. Pendapat ini juga merupakan pendapat madzhab hanafi dan hanbali. Maka menurut pendapat ini wanita yang mengeluarkan darah dimasa kehamilannya tetap diwajibkan untuk mengerjakan sholat dan ketentuan hukumnya mengikuti hukum-hukum yang berlaku bagi wanita yang mengeluarkan darah istihadhoh. Wallohu a'lam

Referensi :
1. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 16  Hal : 270-271
2. Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 18  Hal : 311
3. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 2  Hal : 384
4. Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 10  Hal : 128
5. Al-Iqna', Juz : 1  Hal : 97
6. Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 721
7. Hasyiyah  Al-Bujairomi Alal-Khotib, Juz : 1  Hal : 338
 

Ibarot :
Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 16  Hal : 270-271
دم الحامل : الغالب عدم نزول الدم من الحامل؛ لأن فم الرحم ينسد بالحبل عادة، ولا ينفتح إلا بخروج الولد حيث يندفع النفاس. فإذا رأت الحامل دما حال الحمل وقبل المخاض يكون دم استحاضة عند الحنفية والحنابلة، وهو القول القديم للشافعي، إلا أن الحنابلة اعتبروا الدم النازل من الحامل قبل ولادتها بيوم أو يومين نفاسا. والاستحاضة لا تسقط الصلاة، ولا تحرم الصوم اتفاقا، ولا الجماع عند جمهور الفقهاء، بخلاف النفاس الذي يسقط الصلاة ويحرم الصوم والوطء. وذهب المالكية والشافعية في الجديد إلى أن الدم النازل من الحامل يعتبر حيضا يمنع الصوم والصلاة والوطء، لكنه لا يحسب من أقراء العدة

Al-Mausu'ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, Juz : 18  Hal : 311
دم الحامل: اختلف الفقهاء في دم الحامل هل هو دم حيض، أو علة وفساد؟
فذهب الحنفية والحنابلة إلى أن دم الحامل دم علة وفساد، وليس بحيض، لحديث أبي سعيد رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال في سبي أوطاس: لا توطأ حامل حتى تضع، ولا غير ذات حمل حتى تحيض فجعل الحيض علما على براءة الرحم، فدل على أنه لا يجتمع معه. وقال صلى الله عليه وسلم في حق ابن عمر - لما طلق زوجته وهي حائض - مره فليراجعها ثم ليطلقها طاهرا أو حاملا . فجعل الحمل علما على عدم الحيض كالطهر. وقد استحب الحنابلة للحامل أن تغتسل عند انقطاع الدم عنها احتياطا، وخروجا من الخلاف.
وذهب المالكية والشافعية إلى أن دم الحامل حيض، إن توافرت شروطه لعموم الأدلة لخبر: دم الحيض أسود يعرف وعن عائشة رضي الله تعالى عنها أنها قالت في الحامل ترى الدم: أنها تترك الصلاة، من غير نكير، فكان إجماعا. وإجماع أهل المدينة عليه، ولأنه دم متردد بين دمي الجبلة والعلة، والأصل السلامة من العلة، ولأنه دم لا يمنعه الرضاع بل إذا وجد معه حكم بكونه حيضا، وإن ندر فكذا لا يمنعه الحيض

Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 2  Hal : 384
قال المصنف رحمه الله تعالى : وفي الدم الذي تراه الحامل قولان أحدهما أنه حيض لأنه دم لا يمنعه الرضاع فلا يمنعه الحمل كالنفاس والثاني أنه دم فساد لأنه لو كان حيضا لحرم الطلاق وتعلق به انقضاء العدة
..................................
أما حكم المسألة فإذا رأت الحامل دما يصلح أن يكون حيضا فقولان مشهوران قال صاحب الحاوي والمتولي والبغوي وغيرهم الجديد أنه حيض والقديم ليس بحيض واتفق الأصحاب على أن الصحيح أنه حيض فإن قلنا ليس بحيض فهو دم فساد كما ذكر المصنف وهل يسمى استحاضة فيه خلاف سبق وسواء قلنا استحاضة أو دم فساد هو حدث ينقض الوضوء فإن لم يستمر فهو كالبول فلها أن تصلي بالوضوء الواحد صلوات وإن استمر فلها حكم الاستحاضة المستمرة

Al-Hawi Al-Kabir, Juz : 10  Hal : 128
فصل : وإذا رأت الحامل دما يضارع الحيض صفة وقدرا. فقال لها: أنت طالق للسنة أو قال: للبدعة. فهو على اختلاف قول الشافعي في الدم على الحمل. هل يكون حيضا أم لا؟ فعلى قوله في القديم، لا يكون حيضا ويكون دم فساد –الى أن قال-
والقول الثاني: وهو قوله في الجديد: إن دم الحامل إذا ضارع الحيض في الصفة والقدر كان حيضا

Al-Iqna', Juz : 1  Hal : 97
والأظهر أن دم الحامل حيض وإن ولدت متصلا بآخره بلا تخلل نقاء لإطلاق الآية السابقة والأخبار والنقاء بين دماء أقل الحيض فأكثر حيض تبعا لها بشروط وهي ألا يجاوز ذلك خمس عشر يوما ولم تنقص الدماء عن أقل الحيض وأن يكون النقاء محتوشا بين دمي حيض فإذا كانت ترى وقتا دما ووقتا نقاء واجتمعت هذه الشروط حكمنا على الكل بأنه حيض وهذا يسمى قول السحب وقيل إن النقاء طهر لأن الدم إذا دل على الحيض وجب أن يدل النقاء على الطهر وهذا يسمى قول اللقط

Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 721
والأظهر أن دم الحامل حيض إذا توفرت شروطه وإن عقبه الطلق لعموم الأدلة ولأنه دم لا يمنعه الرضاع بل إذا وجد معه حكم بكونه حيضا وإن ندر فكذا لا يمنعه الحمل وإنما حكم الشارع ببراءة الرحم به بناء على الغالب وإذا ثبت أنه حيض جرت عليه أحكامه

Hasyiyah  Al-Bujairomi Alal-Khotib, Juz : 1  Hal : 338
قوله: (المرأة) أي بلغت تسع سنين ولو حاملا كما سيأتي في قوله: والأظهر أن دم الحامل حيض. قالوا: وسبب خروج الدم من الحامل ضعف الولد، فإنه يتغدى بدم الحيض، فإذا ضعف الولد فاض الدم، وخرج ثم إن الضعف لا يكون غالبا إلا في الأشفاع من الشهور، فإن الولد يقوى في الفرد، ولذلك كان من ولد لسبعة أشهر يعيش ومن ولد لثمانية أشهر لا يعيش والله أعلم. ذكره الشعراني في الميزان
Posted by Uswah On 3:42 AM No comments READ FULL POST
Sholat jum'at tidak diwajibkan bagi seorang wanita berdasarkan hadits ;

الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوكٌ، أَوِ امْرَأَةٌ، أَوْ صَبِيٌّ، أَوْ مَرِيضٌ

"Sholat jum'at adalah hak yang wajib bagi setiap muslim, dengan berjama'ah, kecuali bagi empat orang, yaitu budak yang dimiliki, wanita, anak-anak dan orang yang sedang sakit." (Sunan Abu Dawud, no.1067)

Meskipun wanita tidak diwajibkan untuk mengerjakan sholat jum'at, tapi diperbolehkan bagi wanita untuk mengerjakan sholat jum'at. Beberapa hadits shohih meriwayatkan bahwa pada zaman nabi para wanita juga ikut sholat jum'at dengan menempati shof (barisan) dibelakang para lelaki dimasjid beliau.

Diperbolehkannya sholat jum'at bagi wanita apabila hal tersebut tidak menimbulkan fitnah, apabila menimbulkan fitnah, maka wanita dilarang mengikuti sholat jum'at, dalam kitab "Al-Majmu'" Imam Nawawi menukil pendapat Syekh Al-Bandaniji yang menyatakan bahwa disunatkan bagi wanita yang sudah tua untuk mengikuti sholat jum'at, sedangkan bagi wanita yang masih muda dimakruhkan untuk mengikuti sholat jum'at bersama para pria. Karena pada umumnya wanita yang masih muda, apalagi masih suka berdandan dan banyak tingkahnya itulah yang seringkali menimbulkan fitnah.

 Hanya saja, wanita yang ikut sholat jum'at tidak dapat menyempurnakan salah satu syaratnya sholat jum'at yang diharuskan jumlah jama'ahnya harus terdiri dari 40 orang. Namun apabila seorang wanita sudah mengikuti sholat jum'at, maka sholat dhuhurnya sudah gugur,artinya ia sudah tidak wajib mengerjakan sholat dhuhur lagi.

Imam Ibnul Mundzir dalam kitab beliau, "Al-Ijma'" menjelaskan, semua ulama' sepakat bahwa wanita tidak wajib mengikuti sholat jum'at, dan apabila ia mengikuti sholat jum'at, maka sholat jum'at yang ia kerjakan sudah mencukupinya (sah dan sholat dhuhurnya sudah gugur).

Kesimpulannya, diperbolehkan bagi wanita mengikuti sholat jum'at, selama tidak dikhawatirkan menimbulkan fitanah, dan apabila ia telah mengerjakan  sholat jum'at, maka ia tidak perlu lagi mengerjakan sholat dhuhur, namun kehadirannya dalam sholat jum'at tidak bisa menggenapi hitungan 40 orang yang ditentukan sebagai syaratnya sholat jum'ar. Wallohu a'lam.
    
 Referensi :
1. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 4  Hal : 482-484
2. Tuhfatul Muhtaj, Juz : 2  Hal : 406-407
3. Kifayatul Akhyar, Juz : 1  Hal : 142
4. Hasyiyah Al-Bajuri, Juz : 1  Hal : 402
5. Al-Ijma' Li Ibnul Mundhir, Hal : 40


Ibarot :
Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 4  Hal : 482-484


قال المصنف رحمه الله تعالى : صلاة الجمعة واجبة لما روى جابر رضي الله عنه قال " خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال اعلموا أن الله تعالى فرض عليكم الجمعة فمن تركها في حياتي أو بعد موتي وله إمام عادل أو جائر استخفافا أو جحودا فلا جمع الله له شمله ولا بارك له في أمره
الشرح : هذا الحديث رواه ابن ماجه والبيهقي وضعفه وهو بعض من حديث طويل فيه قواعد من الأحكام لكنه ضعيف في إسناده ضعيفان ويغني عنه قول الله تعالى (إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله) وحديث طارق بن شهاب إن النبي صلى الله عليه وسلم قال " الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة عبد مملوك وامرأة أو صبي أو مريض " رواه أبو داود بإسناد صحيح على شرط البخاري ومسلم إلا أن أبا داود قال طارق بن شهاب رأى النبي صلى الله عليه وسلم ولم يسمع منه شيئا وهذا الذي قاله أبو داود لا يقدح في صحة الحديث لأنه إن ثبت عدم سماعه يكون مرسل صحابي ومرسل الصحابي حجة عند أصحابنا وجميع العلماء الا أبو إسحق الاسفرايني –إلى أن قال

قال المصنف رحمه الله : ولا تجب الجمعة علي صبى ولا مجنون لانه لا تجب عليهما سائر الصلوات فالجمعة أولي ولا تجب علي المرأة لما روى جابر قال " قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فعليه الجمعة الا على امرأة أو مسافر أو عبد أو مريض " ولانها تختلط بالرجال وذلك لا يجوز
الشرح : حديث جابر رواه أبو داود والبيهقي وفي إسناده ضعف ولكن له شواهد ذكرها البيهقي وغيره ويغني عنه حديث طارق بن شهاب السابق والإجماع فقد نقل ابن المنذر وغيره الإجماع أن المرأة لا جمعة عليها وقوله ولأنها تختلط بالرجال وذلك لا يجوز لبس كما قال فإنها لا يلزم من حضورها الجمعة الاختلاط بل تكون وراءهم وقد نقل ابن المنذر وغيره الإجماع على أنها لو حضرت وصلت الجمعة جاز وقد ثبتت الأحاديث الصحيحة المستفيضة أن النساء كن يصلين خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم في مسجده خلف الرجال ولأن اختلاط النساء بالرجال إذا لم يكن خلوة ليس بحرام –إلى أن قال-  قال البندنيجي يستحب للعجوز حضور الجمعة قال ويكره للشابة حضور جميع الصلوات مع الرجال إلا العيدين
Tuhfatul Muhtaj, Juz : 2  Hal : 406-407
إنما تتعين على كل مكلف حر ذكر مقيم بلا مرض ونحوه
..................................
إنما تتعين) أي تجب عينا (على كل) مسلم كما علم من كلامه أول كتاب الصلاة (مكلف) أي بالغ عاقل ومثله كما علم من كلامه، ثم متعد بمزيل عقله فتلزمه كغيرها فيقضيها ظهرا وإن كان غير مكلف وذكرا وإن لم يختصا بها توطئة لقوله (حر ذكر مقيم) بمحلها أو بما يسمع منه النداء (بلا مرض ونحوه) ، وإن كان أجير عين ما لم يخش فساد العمل بغيبته كما هو ظاهر وذلك للخبر الصحيح «الجمعة حق واجب على كل مسلم في جماعة إلا أربعة عبد مملوك أو امرأة أو صبي أو مريض» فلا جمعة على غير مكلف ومن ألحق به ولا على من فيه رق، وإن قل كما يأتي وامرأة وخنثى ومسافر ومريض للخبر ولكن يجب أمر الصبي بها كبقية الصلوات كما مر ويسن لسيد قن أن يأذن له في حضورها ولعجوز في بذلتها حيث لا فتنة أن تحضرها كما علم مما مر أول صلاة الجماعة

Kifayatul Akhyar, Juz : 1  Hal : 142
قال : (والذكورة والصحة والاستيطان) احترزنا بالذكورة عن الأنوثة فلا تجب الجمعة على المرأة للحديث المتقدم ولأن في خروجها إلى الجمعة تكليفا لها ونوع مخالطة بالرجال ولا تأمن المفسدة في ذلك وقد تحققت الآن المفاسد لا سيما في مواضع الزيارة كبيت المقدس شرفه الله وغيره فالذي يجب القطع به منعهن في هذا الزمان الفاسد لئلا يتخذ أشرف البقاع مواضع الفساد

Hasyiyah Al-Bajuri Ala Fathul Qorib, Juz : 1  Hal : 402
وخامسها : من لا تجب عليه ولا تنعقد به وتصح منه, وهو الصبي وهو المريض ونحوه ممن له عذر من الأعذار المرخصة في ترك الجماعة

Al-Ijma' Li Ibnul Mundhir, Hal : 40

وأجمعوا على أن لا جمعة على النساء وأجمعوا على أنهن إن حضرن الإمام، فصلين معه أن ذلك يجزئ عنهن
Posted by Uswah On 3:41 AM No comments READ FULL POST
Keadaan yang menuntut adanya operasi cesar itu ada dua :

Pertama : dalam keadaan dlorurot, yakni keadaan dimana keadaan nyawa sang ibu atau nyawanya janin atau nyawa keduanya dikhawatirkan apabila melakukan perrsalinan secara normal.

Kedua : ketika ada hajat, yaitu keadaan dimana dokter perlu untuk melakukan operasi disebabkan kesulitannya sang ibu untuk melahirkan dengan cara normal, dan kalau dipaksakan secara normal akan menyebabkan bahaya yang tidak sampai menyebabkan kematian janin atau sang ibu

Hajat yang memperbolehkan seorang wanita untuk melakukan operasi sesar itu merujuk pada pertimbangan dari para dokter, sedangkan permintaan dari wanita tersebut atau dari suaminya yang menginginkan dilakukannya operasi sesar tidaklah dibenarkan untuk menghindari sakit yang dirasakan saat melahirkan secara normal tidaklah dianggap sebagai hajat yang memperbolehkan dilangsungkannya operasi sesar. Dan diwajibkan bagi seorang dokter hanya memperbolehkan dilakukannya operasi sesar jika memang ada hajat dengan memperhatikan keadaan wanita tersebut.

Dalam literatur fiqih klasik mengnai masalah melubangi telinga untuk memasangkan antIng-anting, mam Al Ghozali dalam Ihya'-nya menjelaskan ; "Saya belum tahu perkara yang membolehkan dalam melubangi telinganya anak perempuan dalam rangka untuk menggantungkan anting-anting emas atau yang lainnya, karena hal tersebut termasuk melukai yang menyakitkan, padahal semisalnya ini akan mewajibkan qishos. Maka melukai anggota tubuh ini tidak diperbolehkan kecuali ada hajat yang penting, seperti bekam, dan khitan".

Dari penjelasan Imam Ghozali diatas dapat dipahami bahwasanya melukai tubuh itu hanya diperbolehkan apabila memang ada hajat yang dibenarkan agama dan karena hal yang dianggap penting.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa melakukan operasi sesar yang bertujuan untuk mencari tanggal cantik tidaklah diperbolehkan, karena bukan merupakan hajat yang memperbolehkan dilangsungkannya operasi sesar. Wallohu a'lam.

Referensi :
1. Al-Wajiz Fi Ahkamil Jirohah At-Thibbiyah, Hal : 6-7
2. Mughnil Muhtaj, Juz : 6  Hal : 143


Ibarot :
Al-Wajiz Fi Ahkamil Jirohah At-Thibbiyah, Hal : 6-7

جراحة الولادة
ولا تخلو الحالة الداعية إلى فعلها من حالتين
الحالة الأولى أن تكون ضرورية، وهي الحالة التي يخشى فيها على حياة الأم أو جنينها أو هما معا، -إلى أن قال-
الحالة الثانية: أن تكون حاجية وهي الحالة التي يحتاج الأطباء فيها على فعل الجراحة بسبب تعذر الولادة الطبيعية وترتب الأضرار عليها إلى درجة لا تصل إلى مرتبة الخوف على الجنين أو أمه من الهلاك، -إلى أن قال- والحكم بالحاجة في هذا النوع من الجراحة راجع إلى تقدير الأطباء، ولا يعد طلب المرأة او زوجها مبررا لفعل هذا النوع من الجراحة طلبا للتخلص من آلام الولادة الطبيعية. ويجب على الطبيبة التقيد بشرط وجود الحاجة، وأن تنظر في حال المرأة وقدرتها على تحمل مشقة الولادة الطبيعية وكذلك ينظر في الآثار المترتبة على ذلك فغن اشتملت على أضرار زائدة عن القدر المعتاد في النساء ووصلت إلى مقام يوجب الحرج والمشقة على المرأة أو غلب على ظنها أنه تتسبب في حصول ضرر للجنين فإنه حينئذ يجوز له العدول إلى الجراحة وفعلها بشرط ألا يوجد بديل يمكن بواسطته دفع تلك الأضرار وإزالتها

Mughnil Muhtaj, Juz : 6  Hal : 143
فائدة : قال في الإحياء لا أدري رخصة في تثقيب أذن الصبية لأجل تعليق حلي الذهب أي أو نحوه فيها، فإن ذلك جرح مؤلم، ومثله موجب للقصاص، فلا يجوز إلا لحاجة مهمة كالفصد والحجامة والختان. والتزين بالحلي غير مهم
Posted by Uswah On 3:39 AM No comments READ FULL POST
Perempuan yang mati saat melahirkan itu dihukumi mati syahid akhirot, maksudnya mendapatkan pahala seperti pahala orang mati syahid, namun dalam pengurusan mayitnya dihukumi sebagaimana mayit pada umumnya, dalam artian tetap dimandikan, dikafani dan disholati, meskipun bayi yang dikandung adalah hasil dari hubungan perzinaan. Sebab hukum haromnya berzina itu termasuk dalam khitob taklifi, sedangkan status syahid akhirot adalah hukum wadh'iy dimana tidak selalu ada keterkaitan antara keduanya, karena itulah ketentuan-ketentuan hukum seperti nifas tetap berlaku baginya. Namun, status tersebut sudah tidak berlaku apabila kematiannya disebabkan ia melakukan hal yang bertujuan untuk menggugurkan kandungan tersebut.
Kesimpulannya, perempuan yang mati dalam keadaan melahirkan bayi yang dihasilkan dari hubungan zina itu tetap dihukumi syahid akhirot selama matinya bukan karena melakukan aborsi. Wallohu a'lam.
Referensi :
1. Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 2  Hal ; 124
2. Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhil Manhaj, Juz : 2  hal : 193-194
3. Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 488


Ibarot :
Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 2  Hal ; 124

وأما شهيد الآخرة فقط: فهو كغير الشهيد، فيغسل، ويكفن، ويصلى عليه، ويدفن. وأقسامه كثيرة، فمنها الميتة طلقا، ولو كانت حاملا من زنا

Hasyiyah Al-Jamal Ala Syarhil Manhaj, Juz : 2  hal : 193-194

أما الشهيد العاري عما ذكر كالغريق والمبطون والمطعون والميت عشقا والميتة طلقا والمقتول في غير القتال ظلما فيغسل ويصلى عليه
.........................
[حاشية الجمل]
قوله والميتة طلقا) أي، ولو من حمل زنا اهـ. شرح م ر ما لم تتسبب في الإجهاض اهـ. برماوي

Hasyiyah Al-Bujairomi Ala Syarhil Manhaj, Juz : 1  Hal : 488

قوله: والميتة طلقا) ولو من زنا ما لم تتسبب في الإجهاض ق ل
Posted by Uswah On 3:38 AM No comments READ FULL POST
Alloh berfirman dalam Al-qur'an :

وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian[1050] mereka dengan tidak (bermaksud) Menampakkan perhiasan, dan Berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana". (Q.S. An-Nur : 60)

Dari ayat diatas para ulama' memahami bahwa bagi wanita yang sudah terhenti haidnya, tidak lagi memiliki keinginan untuk menikah dan tidak lagi diinginkan untuk dinikahi karena sudah tua diperbolehkan untuk agak "longgar" dalam menutupi aurot, maksudnya diperbolehkan baginya untuk tidak memakai pakaian-pakaian luar sebagai pelapis, seperti selendang atau pakaian diatas kerudung asalkan tetap tidak menampakkan rambut atau leher atau bagian-bagian lain yang termasuk aurot. Hanya saja dalam ayat tersebut dijelaskan juga bahwa menutupi aurot dengan memakai pakaian sebagaimana yang dipakai saat masih muda (dengan memakai pakaian luar sebagai pelapis) itu lebih utama (afdhol).

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa aurot wanita yang sudah tua itu sama saja dengan wanita yang masih muda, hanya saja ada keringanan untuk tidak memakai pakaian-pakaian luar yang digunakan sebagai pelapis.

Sedangkan mengenai anggapan bahwa ia sudah menarik syahwat itu tidak bisa diterima, sebab syahwat adalah sesuatu yang tidak memiliki batasan yang jelas, jadi hukumnya tetap disamakan dengan wanita yang masih muda, sebab perintah untuk menutup aurot itu bukan hanya berlaku untuk wanita yang masih muda saja, namun juga berlaku bagi wanita yang sudah tua. Wallohu a'lam.

Referensi :
1. Tafsir Munir Liz-Zuhailiy, Juz : 18  Hal : 296-297
2. Roudhotut Tholibin, Juz : 7  Hal : 24
3. Tuhfatul Muhtaj, Juz : 7  Hal : 193-194


Ibarot :
Tafsir Munir Liz-Zuhailiy, Juz : 18  Hal : 296-297

 الحكم الثالث عشر
والقواعد من النساء اللاتي لا يرجون نكاحا فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن غير متبرجات بزينة هذا بيان حكم النساء العجائز، والمعنى: إن النساء اللواتي كبرن، وانقطع الحيض عنهن، ويئسن من الولد، ولم يبق لهن رغبة في التزوج، فلا إثم عليهن ولا حرج أن يخففن في ملابسهن ويخلعن ثيابهن الظاهرة كالجلباب والرداء والقناع فوق الخمار (غطاء الرأس) إذا لم يقصدن إظهار ما عليهن من الزينة الخفية كشعر ونحر وساق، ولم يكن فيهن جمال ظاهر، فإن وجد حرم خلع الثياب الظاهرة، ولم يؤد إلى كشف شيء من العورة.
وأن يستعففن خير لهن، والله سميع عليم أي أن التعفف والاحتياط بالستر، وإبقاء ثيابهن المعتادة، وإن كان جائزا، خير وأفضل لهن، والله سميع لأحاديثهن وكلامهن مع الرجال وكلام الرجال معهن، عليم بمقاصدهن لا تخفى عليه خافية من أمرهن وغير ذلك، فإياكم ووساوس الشيطان

Roudhotut Tholibin, Juz : 7  Hal : 24

وأما العجوز، فألحقها الغزالي بالشابة، لأن الشهوة لا تنضبط

Tuhfatul Muhtaj, Juz : 7  Hal : 193-194

واختيار الأذرعي قول جمع بحل نظر وجه وكف عجوز يؤمن من نظرهما الفتنة لآية {والقواعد من النساء} [النور: 60] ضعيف ويرده ما مر من سد الباب، وأن لكل ساقطة لاقطة ولا دلالة في الآية كما هو جلي بل فيها إشارة للحرمة بالتقييد بغير متبرجات بزينة واجتماع أبي بكر وأنس بأم أيمن وسفيان وإضرابه برابعة - رضي الله عنهم - لا يستلزم النظر على أن مثل هؤلاء لا يقاس بهم غيرهم ومن ثم جوزوا لمثلهم الخلوة كما يأتي قبيل الاستبراء إن شاء الله تعالى
Posted by Uswah On 3:37 AM No comments READ FULL POST
Beberapa hadits menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, diantaranya adalah hadits yang diriwatatkan oleh Abu Sa'id Al Khudhri rodhiyallohu 'anhu:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ إِلَى الْمُصَلَّى فَمَرَّ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ قُلْنَ بَلَى قَالَ فَذَلِكِ مِنْ نُقْصَانِ دِينِهَا

 “Rasulullah Shollallohu 'alaihi wasallam pernah keluar di waktu Idul-Adha atau Idul-Fitri menuju tempat shalat. Lalu beliau lewat bertemu para wanita untuk bersabda ‘hai para wanita, shadaqahlah! Sungguh saya telah menyaksikan kalianlah lebih banyaknya penghuni neraka’. Sontak mereka berkata ‘kenapa ya Rasulallah?’. Nabi bersabda ‘kalian sering melaknat dan mengkufuri suami. Saya belum pernah mengerti orang-orang yang kurang akal dan agamanya yang lebih menghilangkan lubb (akal yang bersih dari hawa-nafsu dan emosi) daripada seorang kalian’Mereka bertanya ‘bagaimana kurangnya agama dan akal kami, ya Rasulallah?’. Nabi bersabda ‘bukankah (Allah menentukan) persaksian seorang wanita semisal setengah persaksian seorang pria?’. Mereka menjawab ‘betul’. Nabi bersabda ‘itu karena kurangnya akalnya. Bukankah jika haid tidak shalat dan tidak berpuasa?’. Mereka berkata ‘betul’. Nabi shollallohu 'alaihi wasallam bersabda ‘itu karena kurangnya agamanya’.” (Shohih Bukhori, no.304 dan Shohih Muslim, no.132)

Namun dalam riawat lain dijelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga juga wanita :

عنْ مُحَمَّدٍ، قَالَ: إِمَّا تَفَاخَرُوا وَإِمَّا تَذَاكَرُوا: الرِّجَالُ فِي الْجَنَّةِ أَكْثَرُ أَمِ النِّسَاءُ؟ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: أَوَ لَمْ يَقُلْ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، وَالَّتِي تَلِيهَا عَلَى أَضْوَإِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ، وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

"Dari Muhammad berkata: Mungkin mereka saling membangga-banggakan diri atau menyebut-nyebut bahwa kaum lelaki lebih banyak disurga dari pada kaum wanita, lalu Abu Hurairah berkata: Bukankah Abu Al Qasim Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya golongan pertama yang masuk surga wujudnya seperti bulan di malam purnama, golongan selanjutnya wujudnya seperti bintang paling terang di langit dan setiap lelaki diantara mereka memiliki dua istri, tulang betis keduanya terlihat dari baik daging dan disurga tidak ada orang bujang."(Shohih Muslim, no.2834)

Sekilas, nampak ada pertentangan antara 2 hadits diatas, dimana hadits yang pertama menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, sebaliknya hadits kedua menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni surga adalah wanita. Para ulama' memberikan penjelasan berbeda menanggapi dua riwayat yang seakan-akan bertentangan tersebut ;
1. Kedua hadits diatas mengisyaratkan bahwa jumlah wanita dudunia ini lebih banyak daripada laki-laki, karena itu baik disurga atau dineraka kebanyakan penghuninya adalah wanita.
2. Memang benar kebanyakan penghuni neraka adalah wanita sebelum Nabi memberikan syafa'atnya kepada orang-orang muslim ahli maksiat yang masuk neraka, setelah Nabi memberikan syafa'at pada ahli maksiat yang masuk neraka, dan banyak wanita ahli maksiat yang dikeluarkan dari neraka, akhirnya kebanyakan penghuni surga adalah wanita.
3. Yang dilihat Nabi pada saat itu memang kebanyakan penghuni neraka adalah wanita, namun ini tidak menutup kemungkinan jumlahnya mengalami perubahan.
Bagaimana pun, pesan yang ingin disampaikan dalam hadits yang menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka, seperti yang diriwayatkan Abu Sa'id Al Khudzri diatas adalah  peringatan bagi wanita agar selalu mawas diri, memperbanyak melakukan kebaikan, menjaga lisannya dari ucapan-ucapan dosa, seperti melaknat seseorang dan berbuat baik terhadap suaminya, karena kebanyakan dari wanita kurang bisa menjaga lisannya dan kurang taat dan berani terhadap suaminya.
Jadi, hadit diatas sama sekali tidak bertentangan dengan realitas yang ada dimana kebanyakan yang memenuhi majlis-majlis ta'lim atau acara acara dan ritual keagamaan adalahg wanita, sebab yang ditekankan oleh nabi adalah kurang taatnya seorang wanita terhadap suaminya dan kurang bisa menjaga ucapannya, dua hal ini yang menjadi penyebab utama wanita masuk neraka. Wallohu a'lam.

Referensi :
1. Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 2  Hal : 66-67
2. Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 17  Hal : 66-67
3. Dalilul Falihin, Juz : 4  Hal : 423
4. Mir'atul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih, Juz : 1  Hal : 80-81


Ibarot :
Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 2  Hal : 66-67


حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر المصري، أخبرنا الليث، عن ابن الهاد، عن عبد الله بن دينار، عن عبد الله بن عمر، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: «يا معشر النساء، تصدقن وأكثرن الاستغفار، فإني رأيتكن أكثر أهل النار» فقالت امرأة منهن جزلة: وما لنا يا رسول الله أكثر أهل النار؟ قال: «تكثرن اللعن، وتكفرن العشير، وما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب لذي لب منكن» قالت: يا رسول الله، وما نقصان العقل والدين؟ قال: " أما نقصان العقل: فشهادة امرأتين تعدل شهادة رجل فهذا نقصان العقل، وتمكث الليالي ما تصلي، وتفطر في رمضان فهذا نقصان الدين " وحدثنيه أبو الطاهر، أخبرنا ابن وهب، عن بكر بن مضر، عن ابن الهاد بهذا الإسناد مثله
...................................................
وأما أحكام الحديث ففيه جمل من العلوم منها الحث على الصدقة وأفعال البر والإكثار من الاستغفار وسائر الطاعات وفيه أن الحسنات يذهبن السيئات كما قال الله عزوجل وفيه أن كفران العشير والإحسان من الكبائر فإن التوعد بالنار من علامة كون المعصية كبيرة كما سنوضحه قريبا إن شاء الله تعالى وفيه أن اللعن أيضا من المعاصي الشديدة القبح وليس فيه أنه كبيرة فإنه صلى الله عليه وسلم قال تكثرن اللعن والصغيرة إذا أكثرت صارت كبيرة

Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 17  Hal : 66-67

حدثني عمرو الناقد، ويعقوب بن إبراهيم الدورقي، جميعا عن ابن علية - واللفظ ليعقوب - قالا: حدثنا إسماعيل ابن علية، أخبرنا أيوب، عن محمد، قال: إما تفاخروا وإما تذاكروا: الرجال في الجنة أكثر أم النساء؟ فقال أبو هريرة: أو لم يقل أبو القاسم صلى الله عليه وسلم: «إن أول زمرة تدخل الجنة على صورة القمر ليلة البدر، والتي تليها على أضوإ كوكب دري في السماء، لكل امرئ منهم زوجتان اثنتان، يرى مخ سوقهما من وراء اللحم، وما في الجنة أعزب؟
....................................
قال القاضي ظاهر هذا الحديث أن النساء أكثر أهل الجنة وفي الحديث الآخر أنهن أكثر أهل النار قال فيخرج من مجموع هذا أن النساء أكثر ولد آدم قال وهذا كله فى الآدميات والافقد جاء للواحد من أهل الجنة من الحور العدد الكثير

Dalilul Falihin, Juz : 4  Hal : 423

قال الحافظ: وفي حديث أبي سعيد عند مسلم في صفة أدنى أهل الجنة «ثم يدخل عليه زوجتاه» ولأبي يعلى عن أبي هريرة «فدخل الرجل على ثنتين وسبعين زوجة مما ينشىء الله زوجتين من ولد آدم» واستدل أبو هريرة بهذا الحديث على أن النساء في الجنة أكثر من الرجال كما أخرجه عنه مسلم في «صحيحه» وهو واضح، لكن يعارضه قوله في حديث الكسوف «أكثر أهل النار» . ويجاب بأنه لا يلزم من كون أكثرهن في النار، نفى كون أكثرهن في الجنة لكن يشكل عليه حديث اطلعت الخ، ويحتمل أن الراوي رواه بالمعنى الذي فهمه من أن كونهن أكثر ساكني النار يلزم منه كونهن أقل ساكني الجنة وليس ذلك بلازم لما قدمته، ويحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة والله أعلم. قال شيخ الإسلام زكريا: ويجاب أيضاً بأن المراد بكونهن أكثر أهل النار نساء الدنيا وبكونهن أكثر أهل الجنة نساء الآخرة فلا تنافي اهـ

Mir'atul Mafatih Syarah Misykatul Mashobih, Juz : 1  Hal : 80-81

أكثر أهل النار) –إلى أن قال- ، ولا يعارض هذا ما أخرجه أبويعلى عن أبي هريرة في حديث الصور الطويل مرفوعاً: ((فيدخل الرجل على اثنتين وسبعين زوجة مما ينشئ الله وزوجتين من ولد آدم)) وغير ذلك من الأحاديث الدالة على كون الزوجتين من نساء الدنيا، وكثرة النساء في الجنة دون النار لأنه يحتمل أن يكون ذلك في أول الأمر قبل خروج العصاة من النار بالشفاعة، وقيل: كانت الأكثرية عند مشاهدته إذ ذاك ولا تنسحب على مجموع الزمان، فتأمل
Posted by Uswah On 3:36 AM No comments READ FULL POST
Diriwayatkan dari Anas bin Malik ;
أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ، حَدَّثَتْ أَنَّهَا سَأَلَتْ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْمَرْأَةِ تَرَى فِي مَنَامِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا رَأَتْ ذَلِكَ الْمَرْأَةُ فَلْتَغْتَسِلْ» فَقَالَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ: وَاسْتَحْيَيْتُ مِنْ ذَلِكَ، قَالَتْ: وَهَلْ يَكُونُ هَذَا؟ فَقَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَعَمْ، فَمِنْ أَيْنَ يَكُونُ الشَّبَهُ؟ إِنَّ مَاءَ الرَّجُلِ غَلِيظٌ أَبْيَضُ، وَمَاءَ الْمَرْأَةِ رَقِيقٌ أَصْفَرُ، فَمِنْ أَيِّهِمَا عَلَا، أَوْ سَبَقَ، يَكُونُ مِنْهُ الشَّبَهُ

"Bahwa Ummu Sulaim pernah bercerita bahwa dia bertanya kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam tentang wanita yang bermimpi (bersenggama) sebagaimana yang terjadi pada seorang lelaki. Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Apabila perempuan tersebut bermimpi keluar mani, maka dia wajib mandi hadas." Ummu Sulaim berkata, "Aku malu untuk bertanya perkara tersebut". Ummu Sulaim bertanya, "Apakah perkara ini berlaku pada perempuan?" Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda, "Ya (wanita juga keluar mani, kalau dia tidak keluar) maka dari mana terjadi kemiripan?. Ketahuilah bahwa mani lelaki itu kental dan berwarna putih, sedangkan mani perempuan itu encer dan berwarna kuning. Manapun mani dari salah seorang mereka yang lebih mendominasi atau menang, niscaya kemiripan terjadi karenanya." (Shohih Muslim, no.311)

Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa wanita juga bisa mengeluarkan mani, meskipun pada umumnya mani wanita itu tidak sampai keluar dari alat kelaminnya. Sedangkan mengenai ciri-ciri dari mani wanita adalah warnanya kuning dan encer sebagaimana dijelaskan pada hadits diatas, namun para ulama' menyatakan bahwa warnanya bisa berubah menjadi putih saat kuatnya syahwat seorang wanita. Para ulama' menambahkan, bau dari mani wanita sebagaimana baunya mani laki-laki, ciri-ciri utamanya ada 2; yaitu seorang wanita akan merasakan enak (ladzdzat) saat keluarnya dan syahwatnya akan menjadi lemah setelah mengeluarkannya.

Referensi :
1. Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 3  Hal : 222-223
2. Al Majmu', Juz : 2  Hal : 141
3. Al Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Juz : 1  Hal : 15


Ibarot :
Syarah Shohih Muslim Lin-Nawawi, Juz : 3  Hal : 222-223
حدثنا عباس بن الوليد، حدثنا يزيد بن زريع، حدثنا سعيد، عن قتادة، أن أنس بن مالك، حدثهم أن أم سليم، حدثت أنها سألت نبي الله صلى الله عليه وسلم عن المرأة ترى في منامها ما يرى الرجل، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «إذا رأت ذلك المرأة فلتغتسل» فقالت أم سليم: واستحييت من ذلك، قالت: وهل يكون هذا؟ فقال نبي الله صلى الله عليه وسلم: نعم، فمن أين يكون الشبه؟ إن ماء الرجل غليظ أبيض، وماء المرأة رقيق أصفر، فمن أيهما علا، أو سبق، يكون منه الشبه
...............................................
قوله صلى الله عليه وسلم (إن ماء الرجل غليظ أبيض وماء المرأة رقيق أصفر) هذا أصل عظيم في بيان صفة المني وهذه صفته في حال السلامة وفي الغالب قال العلماء مني الرجل في حال الصحة أبيض ثخين يتدفق في خروجه دفقة بعد دفقة ويخرج بشهوة ويتلذذ بخروجه وإذا خرج استعقب خروجه فتورا ورائحة كرائحة طلع النخل ورائحة الطلع قريبة من رائحة العجين وقيل تشبه رائحته رائحة الفصيل وقيل إذا يبس كان رائحته كرائحة البول فهذه صفاته وقد يفارقه بعضها مع بقاء ما يستقل بكونه منيا وذلك بأن يمرض فيصير منيه رقيقا أصفر أو يسترخي وعاء المني فيسيل من غير التذاذ وشهوة أو يستكثر من الجماع فيحمر ويصير كماء اللحم وربما خرج دما غبيطا وإذا خرج المني أحمر فهو طاهر موجب للغسل كما لو كان أبيض ثم إن خواص المني التي عليها الاعتماد في كونه منيا ثلاث أحدها الخروج بشهوة مع الفتور عقبه والثانية الرائحة التي شبه الطلع كما سبق الثالث الخروج بزريق ودفق ودفعات وكل واحدة من هذه الثلاث كافية في إثبات كونه منيا ولا يشترط اجتماعها فيه واذا لم يوجد شئ منها لم يحكم بكونه منيا وغلب على الظن كونه ليس منيا هذا كله في مني الرجل وأما مني المرأة فهو أصفر رقيق وقد يبيض لفضل قوتها وله خاصيتان يعرف بواحدة منهما إحداهما أن رائحته كرائحة مني الرجل والثانية التلذذ بخروجه وفتور شهوتها عقب خروجه

Al Majmu', Juz : 2  Hal : 141
وأما مني المرأة فأصفر رقيق قال المتولي وقد يبيض لفضل قوتها قال إمام الحرمين والغزالي ولا خاصية له إلا التلذذ وفتور شهوتها عقيب خروجه ولا يعرف إلا بذلك: وقال الروياني رائحته كرائحة مني الرجل فعلى هذا له خاصيتان يعرف بإحداهما وقال البغوي خروج منيها بشهوة أو بغيرها يوجب الغسل كمني الرجل وذكر الرافعي أن الأكثرين قالوا تصريحا وتعريضا يطرد في منيها الخواص الثلاث وأنكر عليه الشيخ أبو عمرو بن الصلاح وقال هذا الذي ادعاه ليس كما قاله والله أعلم

Al Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, Juz : 1  Hal : 15
ومنها منيُّ الآدمي وغيره ؛ وهو ماء يخرج عند اللذة بجماع ونحوه، وهو من الرجل عند اعتدال مزاجه أبيض غليظ، ومن المرأة أصفر رقيق، قالوا: ولا ينفصل ماء المرأة، بل يوجد داخل الفرج، وربما ظهر أثره في الذكر، أما الذين ينكرون منّي المرأة، ويدعون أن الذي يحس من المرأة رطوبة الفرج، فإنهم ينكرون المحس البديهي
Posted by Uswah On 3:34 AM No comments READ FULL POST
Perincian mengenai hukum menggugurkan kandungan (aborsi) adalah sebagai berikut :
A.Setelah ditiupnya ruh
Ditiupnya ruh/nyawa pada janin yang berada dalam kandungan berarti janin tersebut sudah hidup, adapun masa ditiupnya ruh adalah setelah 120 hari (4 bulan) sebagaimana dijelaskan dalam hadits :

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ: اكْتُبْ عَمَلَهُ، وَرِزْقَهُ، وَأَجَلَهُ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ

"Sesungguhnya setiap orang dari kalian dikumpulkan dalam penciptaannya ketika berada di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (zigot) selama itu pula kemudian menjadi mudlghah (segumpal daging), selama itu pula kemudian Allah mengirim malaikat yang diperintahkan empat ketetapan dan dikatakan kepadanya, tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya dan sengsara dan bahagianya lalu ditiupkan RUH kepadanya." (Shohih Bukhori, no.3208 dan Shohih Muslim, no.2643)

Semua ulama' sepakat bahwa menggugurkan kandungan setelah kandungan berumur 120 hari/4 bulan yang berarti setelah ditiupnya ruh pada janin hukumnya adalah harom. Keharoman menggugurkan kandungan setelah bayi kandungan berumur 4 bulan itu bersifat umum yang mencapup permasalahan apabila kandungan tersebut digugurkan dengan alasan mengkhawatirkan keselamatan wanita yang mengandung, sebab kematian ibu yang mengandung adalah sesuatu yang belum pasti (mauhum) sedangkan kematian janin tersebut setelah digugurkan itu sudah pasti (qoth'i), sedangkan  pembunuhan terhadap seorang manusiaitu tidak diperbolehkan hanya untuk sesuatu yang belum pasti.Jjadi menggugurkan kandungan dengan alasan tersebut tetap diharamkan.

B.Sebelum ditiupnya ruh

Para ulama' berbeda pendapat mengenai hukum aborsi yang dilakukan sebelum janin ditiupkan ruh. Perincian mengenai perbedaannya adalah sebagai berikut :
1.Hukumnya haram secara mutlak. Pendapat ini merupakan pendapat "al-aujah" dalam madzhab Syafi'i, yang didukung oleh Syekh Ibnul Imad dan beberapa ulama' dari kalangan madzhab syafi'i. Alasannya ketika mani/sperma sudah menetap didalam rahim, maka mani tersebut sudah akan tiba waktunya dan sudah siap untuk ditiup ruh. Imam Ghozali dalam kitab Ihya' menyatakan; ketika mani laki-laki (sperma) sudah bercampur dengan mani perempuan (ovum) maka sudah siap menerima kehidupan, karena itu merusaknya adalah suatu tindakan kriminal (kejahatan/jinayat) hal ini lah yang membedakan aborsi dengan azl dimana azl adalah mengeluarkan sperma sebelum sperma belum bercampur dengan ovum.
Pendapat ini juga merupakan pendapat madzhab Hanbali sebagaimana dituturkan oleh Imam Al Jauzi. Pendapat ini juga merupakan pendapat yang mu'tamad dalam madzhab Maliki, Imam Malik rohimahulloh mengatakan : "Semua yang digugurkan oleh seorang wanita, baik itu berupa gumpalan daging (mudhghoh) atau segumpal darah (alaqoh) adalah suatu kejahatan (jinayah).
2.Boleh secara mutlak. Pendapat ini diikuti oleh Syekh Abu Ishaq Al Maruzi dari kalangan madzhab syafi'i, bahkan menurut Imam Romli pendapat yang rojih (unggul) adalah diperbolehkannya menggurkan akndungan sebelum ditiupnya. Pendapat ini juga dinyatakan oleh beberapa ulama' madzhab Hanafi, sedangkan dari kalangan madzhab Maliki yang mengikuti pendapat ini adalah Syekh Ibnul Kamil Al-Lakhmi, sebagian ulama' madzhab Hanbali juga ada yang mengikutiu pendapat ini.
3.Boleh jika ada udzur. Pendapat inilah sejatinya pendapat madzhab Hanafi, sebagian udzur yang memperbolehkan pengguguran kandungan sebelum ditiupnya ruh, sebagaimana dijelaskan Syekh Ibnu Wahban, semisal ketika seorang wanita sudah dinyatakan positif hamil, namun air susunya tidak bisa keluar sedangkan ayah dari bayi tersebut tidak memiliki uang untuk menyewa wanita untuk menyusui anaknya ketika bayinya lahir nanti, dan dikhawatirkan apabila kandungan tersebut tidak digugurkan, nanti saat bayi tersebut lahir akan mati karena ibunya tidak bisa menyusui.
4.Makruh secara mutlak. Pendapat ini dikemukakan oleh Imam Romli dari kalangan madzhab Syafi'i, beliau menyatakan bahwa hukum pengguguran kandungan sebelum ditiupnya ruh itu dimungkinkan makruh tanzih atau makruh tahrim, dan hukum makruh tahrim akan semakin kuat ketika umjur janin didalam kandungan mendekatiu masa ditiupnya ruh. Penbdapat ini juga dinyatakan oleh Syekh Ali bin Musa, ulama' dari kalangan madzhab Hanafi, beliau memberikan asalasan dimakruhkannya sebab ketika mani sudah masuk kedalam rahim maka sudah siap untuk menerima kehidupan. Selain itu pendapat ini juga diikuti oleh sebagian ulama' madzhab Maliki dalam masalah pengguguran kandungan sebelum masa kandungan mencapai 40 hari.
Kesimpulannya; semua ulama' sepakat bahwa menggugurkan kandungan setelah usia kehamilan mencapai 4 bulan hukumnya harom. Sedangkan menggugurkan kandungan sebelum masa itu, hukumnya diperselisihkan oleh ulama', terdapat 4 pendapat yang berbeda yaitu; Harom, boleh, boleh jika ada udzur dan makruh. Wallohu a'lam.
Kajian oleh : Farid Muzakki, Ubaid Bin Aziz Hasanan, Siroj Munir, Dawam Mu'allim dan Sunde Pati dalam Kajian Fiqh Kontemporer
Referensi :
1.Ihya' Ulumiddin, Juz : 2  Hal : 51
2. Tuhfatul Muhtaj, Juz : 9  Hal : 41
3. Nihayatul Muhtaj, Juz : 8  Hal : 442
4. Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 4  Hal : 148
5. Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 522
6. Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Juz : 2  Hal : 56-59


Ibarot ; 
Ihya' Ulumiddin, Juz : 2  Hal : 51

وليس هذا كالإجهاض والوأد لأن ذلك جناية على موجود حاصل وله أيضا مراتب وأول مراتب الوجود أن تقع النطفة في الرحم وتختلط بماء المرأة وتستعد لقبول الحياة وإفساد ذلك جناية فإن صارت مضغة وعلقة كانت الجناية أفحش وإن نفخ فيه الروح واستوت الخلقة ازدادت الجناية تفاحشا 

Tuhfatul Muhtaj, Juz : 9  Hal : 41

 فرع:  أفتى أبو إسحاق المروزي بحل سقيه أمته دواء لتسقط ولدها ما دام علقة أو مضغة وبالغ الحنفية فقالوا يجوز مطلقا وكلام الإحياء يدل على التحريم مطلقا وهو الأوجه كما مر والفرق بينه وبين العزل واضح

Nihayatul Muhtaj, Juz : 8  Hal : 442

وقد أشار الغزالي إلى هذه المسألة في الإحياء فقال بعد أن قرر أن العزل خلاف الأولى ما حاصله: وليس هذا كالاستجهاض والوأد لأنه جناية على موجود حاصل، فأول مراتب الوجود وقع النطفة في الرحم فيختلط بماء المرأة فإفسادها جناية، فإن صارت علقة أو مضغة فالجناية أفحش، فإن نفخت الروح واستقرت الخلقة زادت الجناية تفاحشا، ثم قال: ويبعد الحكم بعدم تحريمه. وقد يقال: أما حالة نفخ الروح فما بعده إلى الوضع فلا شك في التحريم، وأما قبله فلا يقال إنه خلاف الأولى بل محتمل للتنزيه والتحريم، ويقوى التحريم فيما قرب من زمن النفخ

Hasyiyah I'anatut Tholibin, Juz : 4  Hal : 148

فرع: اختلفوا في التسبب لاسقاط ما لم يصل لحد نفخ الروح فيه وهو مائة وعشرون يوما، والذي يتجه وفاقا لابن العماد وغيره الحرمة، ولا يشكل عليه جواز العزل لوضوح الفرق بينهما بأن المني حال نزوله محض جماد لم يتهيأ للحياة بوجه بخلافه بعد استقراره في الرحم وأخذه في مبادئ التخلق ويعرف ذلك بالامارات، وفي حديث مسلم أنه يكون بعد اثنتين وأربعين ليلة: أي ابتداؤه كما مر في الرجعة، ويحرم استعمال ما يقطع الحبل من أصله، كما صرح به كثيرون، وهو وظاهر.اه
والذي رجحه م ر أنه بعد نفخ الروح يحرم مطلقا ويجوز قبله ونص عبارته في باب أمهات الاولاد بعد كلام.
قال الدميري: لا يخفى أن المرأة قد تفعل ذلك بحمل زنا وغيره، ثم هي إما أمة فعلت ذلك بإذن مولاها الواطئ لها وهي مسألة الفراتي أو بإذنه وليس هو الواطئ وهو صورة لا تخفى، والنقل فيها عزيز، وفي مذهب أبي حنيفة شهير، ففي فتاوى قاضيخان وغيره أن ذلك يجوز، وقد تكلم الغزالي عليها في الاحياء بكلام متين غير أنه لم يصرح بالتحريم.اه.والراجح تحريمه بعد نفخ الروح مطلقا وجوازه قبله.اه
قوله: يحل سقي أمته) الامة ليس بقيد كما يعلم ذلك من عبارة التحفة في النكاح ونص عبارته: واختلفوا في جواز التسبب إلى إلقاء النطفة بعد استقرارها في الرحم فقال أبو إسحاق المروزي يجوز إلقاء النطفة والعلقة، ونقل ذلك عن أبي حنيفة الخ.اه. (قوله: مطلقا) المراد بالاطلاق هنا وفيما يأتي ما يشمل العلقة والمضغة وحالة ما بعد نفخ الروح (قوله: وكلام الاحياء يدل على التحريم) أي وليس صريحا فيه وعبارته بعد أن قرر أن العزل خلاف الاولى: وليس هذا كالاستجهاض والوأد، أي قتل الاطفال، لانه جناية على موجود حاصل، فأول مراتب الوجود وقع النطفة في الرحم فيختلط بماء المرأة فإفسادها جناية، فإن صارت علقة أو مضغة فالجناية أفحش، فإن نفخت الروح واستقرت الخلقة زادت الجناية تفاحشا. اه

Bughyatul Mustarsyidin, Hal : 522

مسألة : ك : يحرم التسبب في إسقاط الجنين بعد استقراره في الرحم ، بأن صار علقة أو مضغة ولو قبل نفخ الروح كما في التحفة ، وقال (م ر) : لا يحرم إلا بعد النفخ


Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, Juz : 2  Hal : 56-59

صفة الإجهاض حكمه التكليفي
من الفقهاء من فرق بين حكم الإجهاض بعد نفخ الروح، وبين حكمه قبل ذلك وبعد التكون في الرحم والاستقرار، ولما كان حكم الإجهاض بعد نفخ الروح موضع اتفاق كان الأنسب البدء به ثم التعقيب بحكمه قبل نفخ الروح، مع بيان آراء الفقهاء واتجاهاتهم فيه

حكم الإجهاض بعد نفخ الروح
نفخ الروح يكون بعد مائة وعشرين يوما، كما ثبت في الحديث الصحيح الذي رواه ابن مسعود مرفوعا: إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة، ثم يكون علقة مثل ذلك، ثم يكون مضغة مثل ذلك، ثم يرسل الملك فينفخ فيه الروح. ولا يعلم خلاف بين الفقهاء في تحريم الإجهاض بعد نفخ الروح. فقد نصوا على أنه إذا نفخت في الجنين الروح حرم الإجهاض إجماعا. وقالوا إنه قتل له، بلا خلاف. والذي يؤخذ من إطلاق الفقهاء تحريم الإجهاض بعد نفخ الروح أنه يشمل ما لو كان في بقائه خطر على حياة الأم وما لو لم يكن كذلك. وصرح ابن عابدين بذلك فقال: لو كان الجنين حيا، ويخشى على حياة الأم من بقائه، فإنه لا يجوز تقطيعه؛ لأن موت الأم به موهوم، فلا يجوز قتل آدمي لأمر موهوم

حكم الإجهاض قبل نفخ الروح
في حكم الإجهاض قبل نفخ الروح اتجاهات مختلفة وأقوال متعددة، حتى في المذهب الواحد، فمنهم من قال بالإباحة مطلقا، وهو ما ذكره بعض الحنفية، فقد ذكروا أنه يباح الإسقاط بعد الحمل، ما لم يتخلق شيء منه. والمراد بالتخلق في عبارتهم تلك نفخ الروح . وهو ما انفرد به من المالكية اللخمي فيما قبل الأربعين يوما، وقال به أبو إسحاق المروزي من الشافعية قبل الأربعين أيضا، وقال الرملي: لو كانت النطفة من زنا فقد يتخيل الجواز قبل نفخ الروح. والإباحة قول عند الحنابلة في أول مراحل الحمل، إذ أجازوا للمرأة شرب الدواء المباح لإلقاء نطفة لا علقة، وعن ابن عقيل أن ما لم تحله الروح لا يبعث، فيؤخذ منه أنه لا يحرم إسقاطه، وقال صاحب الفروع: ولكلام ابن عقيل وجه

ومنهم من قال بالإباحة لعذر فقط، وهو حقيقة مذهب الحنفية. فقد نقل ابن عابدين عن كراهة الخانية عدم الحل لغير عذر، إذ المحرم لو كسر بيض الصيد ضمن لأنه أصل الصيد. فلما كان يؤاخذ بالجزاء فلا أقل من أن يلحقها - من أجهضت نفسها - إثم هنا إذا أسقطت بغير عذر، ونقل عن ابن وهبان أن من الأعذار أن ينقطع لبنها بعد ظهور الحمل وليس لأبي الصبي ما يستأجر به الظئر (المرضع) ويخاف هلاكه، وقال ابن وهبان: إن إباحة الإسقاط محمولة على حالة الضرورة  . ومن قال من المالكية والشافعية والحنابلة بالإباحة دون تقييد بالعذر فإنه يبيحه هنا بالأولى، وقد نقل الخطيب الشربيني عن الزركشي: أن المرأة لو دعتها ضرورة لشرب دواء مباح يترتب عليه الإجهاض فينبغي أنها لا تضمن بسببه

ومنهم من قال بالكراهة مطلقا. وهو ما قال به علي بن موسى من فقهاء الحنفية. فقد نقل ابن عابدين عنه: أنه يكره الإلقاء قبل مضي زمن تنفخ فيه الروح؛ لأن الماء بعدما وقع في الرحم مآله الحياة، فيكون له حكم الحياة، كما في بيضة صيد الحرم. وهو رأي عند المالكية فيما قبل الأربعين يوما ، وقول محتمل عند الشافعية. يقول الرملي: لا يقال في الإجهاض قبل نفخ الروح إنه خلاف الأولى، بل محتمل للتنزيه والتحريم، ويقوى التحريم فيما قرب من زمن النفخ لأنه جريمة

ومنهم من قال بالتحريم، وهو المعتمد عند المالكية. يقول الدردير: لا يجوز إخراج المني المتكون في الرحم ولو قبل الأربعين يوما، وعلق الدسوقي على ذلك بقوله: هذا هو المعتمد. وقيل يكره. مما يفيد أن المقصود بعدم الجواز في عبارة الدردير التحريم . كما نقل ابن رشد أن مالكا قال: كل ما طرحته المرأة جناية، من مضغة أو علقة، مما يعلم أنه ولد، ففيه الغرةوقال: واستحسن مالك الكفارة مع الغرة

والقول بالتحريم هو الأوجه عند الشافعية؛ لأن النطفة بعد الاستقرار آيلة إلى التخلق مهيأة لنفخ الروح . وهو مذهب الحنابلة مطلقا كما ذكره ابن الجوزي، وهو ظاهر كلام ابن عقيل، وما يشعر به كلام ابن قدامة وغيره بعد مرحلة النطفة، إذ رتبوا الكفارة والغرة على من ضرب بطن امرأة فألقت جنينا، وعلى الحامل إذا شربت دواء فألقت جنينا
Posted by Uswah On 3:33 AM No comments READ FULL POST
Salah satu dari syarat sahnya sholat adalah menutup aurot, sedangkan batasan aurot bagi wanita adalah semua badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Dalilnya adalah sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam ;

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ حَائِضٍ إِلَّا بِخِمَارٍ

"Alloh tidak menerima sholat wanita yang sudah haidh tanpa memakai khimar (kerudung)" (Sunan Abu Dawud, no.641, Sunan Ibnu Majah, no.655, Shohih Ibnu Hibban, no.1711, Musnad Ahmad, no.25167, 25833, 25834, 26226)
Sedangkan batasan dari wajah adalah mulai daritempat tumbuhnya rambut sampai dengan dagu dan ujung janggut. Dari batasan ini jelas bahwa dagu termasuk dalam batasan wajah yang dibuka saat sholat, namun bagian bawah dagu termasuk bagian yang wajib ditutupi, karena itulah untuk menutupi bagian bawah dagu secara sempurna mukena yang dipakai juga harus menutupi bagian ujung dari dagu. Jadi apabila bagian bawah dagu terbuka saat sholat maka sholatnya batal kecuali apabila ditutup seketika, dan tak ada bedanya antara terbukanya aurot entah itu hanya sedikit atau banyak sholatnya dihukumi tidak sah.
Pendapat yang menyatakan bahwa terbukanya aurot sedikit saja dalam sholat itu membatalkan sholat adalah pendapat madzhab Syafi'i. Sedangkan menurut madzhab Hanafi terbukanya aurot apabila tak melebihi seperempat bagian tubuh tidak membatalkan sholat, sedangkan menurut madzhab Hanbali terbukanya aurot jika hanya sedikit tidak membatalkan sholat, dan menurut pendapat sebagian ulama' madzhab Maliki menutupi aurot bukanlah syarat dari sholat sehingga apabila aurotnya terbuka sholatnya tetap sah.
Oleh karena itu Syekh Isma'il Bin Zen dalam fatwanya mengenai masalah ini menyatakan bahwa apabila hal ini dilakukan oleh wanita - wanita awam yang tak tahu caranya mengikuti salah satu madzhab (taqlid) maka sholatnya dihukumi sah sebab orang awam itu tidak memiliki madzhab (al-'ami la madzhaba lah).
Kesimpulannya menurut madzhab Syafi'i sholatnya wanita yang terbuka bagian bawah dagunya dihukumi batal, dan apabila hal ini dilakukan oleh orang - orang yang masih awam sholatnya dihukumi sah, namun tentunya kalau bisa ditunjukkan cara menutupi aurot yang benar. Wallohu a'lam.
oleh : Siroj Munir
Referensi :
1. Fathul Qorib, hal : 72 – 73
2. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 1  Hal : 371
3. Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 3  Hal : 166 - 167
4. Qurrotul A'in Bi Fatawi Isma'il Bin Az-Zain, Hal : 52-53

Ibarot :
Fathul Qorib, hal : 72 – 73

فصل : (وشرائط الصلاة قبل الدخول فيها خمسة أشياء): - إلى أن قال - (و) الثاني (ستر) لون (العورة) عند القدرة ولو كان الشخص خاليا أو في ظلمة. فإن عجز عن سترها صلى عاريا، ولا يومئ بالركوع والسجود، بل يتمهما، ولا إعادة عليه. ويكون ستر العورة (بلباس طاهر). ويجب سترها أيضا في غير الصلاة عن الناس وفي الخلوة إلا لحاجة من اغتسال ونحوه. وأما سترها عن نفسه فلا يجب لكنه يكره نظره إليها. وعورة الذكر ما بين سرته وركبته، وكذا الأمة؛ وعورة الحرة في الصلاة ما سوى وجهها وكفيها ظهرا وبطنا إلى الكوعين

Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 1  Hal : 371

قال المصنف رحمه الله : ثم يغسل وجهه وذلك فرض لقوله تعالى (فاغسلوا وجوهكم) والوجه ما بين منابت شعر الرأس إلى الذقن ومنتهى اللحيين طولا ومن الاذن إلى الاذن عرضا والاعتبار بالمنابت المعتادة لا بمن تصلع الشعر عن ناصيته ولا بمن نزل إلى جبهته وفي موضع التحذيف وجهان قال أبو العباس هو من الوجه لانهم أنزلوه من الوجه وقال أبو إسحق هو من الرأس لان الله تعالى خلقه من الرأس فلا يصير وجها بفعل الناس

الشرح : غسل الوجه واجب في الوضوء بالكتاب والسنن المتظاهرة والإجماع وهذا الذي ذكره المصنف في حد الوجه هو الصواب الذي عليه الأصحاب ونص عليه الشافعي رحمه الله في الأم وذكر المزني في المختصر في حده كلاما طويلا مختلا أنكره عليه الأصحاب ونقل إمام الحرمين عن الأصحاب في حده عبارة حسنة فقال قال الأصحاب حده طولا ما بين منحدر تدوير الرأس أو من مبتدإ تسطيح الجبهة إلى منتهى ما يقبل من الذقن ومن الأذن إلى الأذن عرضا

Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab, Juz : 3  Hal : 166 - 167

قال المصنف رحمه الله : يجب ستر العورة للصلاة لما روي عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم قال " لا يقبل الله صلاة حائض إلا بخمار " فان انكشف شئ من العورة مع القدرة لم تصح صلاته

الشرح : هذا الحديث رواه أبو داود والترمذي وقال حديث حسن ورواه الحاكم في المستدرك وقال حديث صحيح على شرط مسلم والمراد بالحائض التي بلغت سميت حائضا لأنها بلغت سن الحيض هذا هو الصواب في العبارة عنها ويقع في كثير من كتب شروح الحديث وكتب الفقه أن المراد بالحائض التي بلغت سن المحيض وهذا تساهل لأنها قد تبلغ سن المحيض ولا تبلغ البلوغ الشرعي ثم إن التقييد بالحائض خرج على الغالب وهو أن التى دون البلوغ لا ثصلى والا فلا يقبل صلاة الصبية المميزة إلا بخمار: واعلم أن الحديث مخصوص بالحرة وإلا فالأمة تصح صلاتها مكشوفة الرأس: أما حكم المسألة فستر العورة شرط لصحة الصلاة فان انكشف شئ من عورة المصلي لم تصح صلاته سواء أكثر المنكشف أم قل وكان أدنى جزء وسواء في هذا الرجل والمرأة وسواء المصلي في حضرة الناس والمصلي في الخلوة وسواء صلاة النفل والفرض والجنازة والطواف وسجود التلاوة والشكر ولو صلى في سترة ثم بعد الفراغ علم أنه كان فيها خرق تبين منه العورة وجبت إعادة الصلاة على المذهب سواء كان علمه ثم نسيه أم لم يكن علمه وفيه الخلاف السابق فيمن صلى بنجاسة جهلها أو نسيها فإن احتمل حدوث الخرق بعد الفراغ من الصلاة فلا إعادة عليه بلا خلاف كما سبق في نظيره من النجاسة في آخر باب طهارة البدن

فرع : في مذاهب العلماء في ستر العورة في الصلاة: قد ذكرنا أنه شرط عندنا وبه قال داود وقال أبو حنيفة إن ظهر ربع العضو صحت صلاته وإن زاد لم تصح وإن ظهر من السوأتين قدر درهم بطلت صلاته وإن كان أقل لم تبطل وقال أبو يوسف إن ظهر نصف العضو صحت صلاته
وإن زاد لم تصح وقال بعض أصحاب مالك ستر العورة واجب وليس بشرط فإن صلى مكشوفها صحت صلاته سواء تعمد أو سها وقال أكثر المالكية السترة شرط مع الذكر والقدرة عليها فإن عجز أو نسي الستر صحت صلاته وهذا هو الصحيح عندهم وقال أحمد إن ظهر شئ يسير صحت صلاته سواء العورة المخففة والمغلظة: دليلنا أنه ثبت وجوب التسر بحديث عائشة ولا فرق بين الرجل والمرأة بالاتفاق وإذا ثبت الستر اقتضى جميع العورة فلا يقبل تخصيص البعض إلا بدليل ظاهر

Qurrotul A'in Bi Fatawi Isma'il Bin Az-Zain, Hal : 52-53

انكشاف ما تحت الذقن من المرأة في الصلاة

سؤال : بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله الموفق للصواب والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى اله والأصحاب وعلى التابعين لهم بإحسان إلى يوم الماب
أما بعد : فقد قدم إلي بعض الإخوان سؤالا, هذا نصه : قد قرروا أن عورة الحرة في الصلاة جميع بدنها ما سوى الوجه والكفين, ومعلوم أن حد الوجه طولا ما بين منابت الشعر إلى اللحيين وعرضا من الأذن إلى الأذن. وقد وقع كثيرا انكشاف ما تحت الذقن من بدن المرأة حال صلاتها وطوافها, فهل تعذر في ذلك لكونه من أسفل أم يضر ذلك ؟ أفتونا رحمكم الله فالمسألة واقعة حال

فاقول وبالله التوفيق : أن انكشاف ما تحت الذهن من بدن المرأة في حال الصلاة والطواف يضر فيكون مبطلا للصلاة وللطواف, وذلك لأنه داخل في عموم كلامهم فيما يجب ستره. فقولهم عورة الحرة في الصلاة جميع بدنها الا الوجه والكفين يفيد ذلك لأمور : منها الإستثناء فإنه معيار العموم, ومنها قولهم يجب عليها أن تستر جزأ من الوجه من جميع الجوانب ليتحقق به كمال الستر لما عداه فظهر بذلك ان كشف ذلك يضر ويعتبر مبطلا للصلاة ومثلها الطواف, هذا مذهب سادتنا الشافعية

وأما عند غيرهم كالسادة الحنفية والسادة المالكية فان ما تحت الذقن ونحوه لا يعد كشفه من المرأة مبطلا للصلاة كما يعلم ذلك من عبارات كتب مذاهبهم. وحينئذ لو وقع ذلك من العاميات  اللاتي لم يعرفن كيفية التقليد  بمذهب الشافعية فان صلاتهن صحيحة لأن العامي لا مذهب له وحتن من العارفات بمذهب الشافعي إذا أردن تقليد غير الشافعي ممن يرى ذلك فأن صلاتهن تكون صحيحة لأن أهل المذاهب الأربعة كلهم على هدى. فجزاهم الله عنا خير الجزاء. وبذلك يعلم أن هذه المسألة وقع السؤال عنها هي موضع خلاف بين أئمة المذاهب وليست من المجمع عليه والحمد لله جعل في الأمر سعة
Posted by Uswah On 3:30 AM No comments READ FULL POST
  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube

Arsip Blog